0 Shares

“Just be sure to notice the collateral beauty. It’s the profound connection to everything.”

collateral-beauty_poster

Sinopsis

Howard Inlet, pendiri agensi periklanan yang sukses, enerjik dan selalu menyebarkan hal-hal positif ke orang-orang di sekitarnya, tiba-tiba berubah 180 derajat sejak kematian anaknya. Howard seperti orang yang sudah tidak punya energi untuk melanjutkan hidupnya. Memutus komunikasi dan sering mengurung diri dalam apartemennya. Hidup benar-benar berubah bagi Howard.

Perubahan ini tentu saja membuat 3 orang sahabatnya yang juga rekan kerjanya menjadi khawatir. Ketiga sahabatnya ini pun berusaha mencari cara agar Howard bisa kembali lagi ke dirinya yang semula dan tak mengabaikan sekitarnya.

Review

Bertabur bintang papan atas, itulah yang terlintas dalam benak kita, ketika melihat poster flm Collateral Beauty. Sebut saja Will Smith yang berperan sebagai Howard Inlet, lalu ada Edward Norton (Whit), Kate Winslet (Claire), Michael Pena (Simon), Helen Mirren (Brigitte/Death), Naomi Harris (Madeleine) sampai Keira Knightley (Amy/Love). Lalu?  Punya ekspektasi tinggi dengan film ini? Atau kita cenderung meragukan, karena banyak film yang bertabur nama-nama aktris terkenal tapi ternyata filmnya tidak seperti yang kita harapkan? Saat mau menontonnya, saya hanya berharap, film ini tidak membuat saya terlalu kecewa.

Collateral Beauty mengangkat tema yang begitu dekat dengan realita kehidupan kita. Mengingatkan bahwa semua orang pasti pernah atau akan kehilangan orang yang disayanginya. Mengatasi rasa kehilangan tentu saja berbeda bagi setiap orang. Tapi, saat kita mencoba sedikit menoleh ke sekeliling, memutar balik masa lalu kita saat kita kehilangan, mungkin sebagian dari kita tidak menerimanya dan terus terkungkung dengan rasa kehilangan itu sehingga mengabaikan sekeliling kita. Kita lebih emosional, tak mau diusik bahkan kehidupan kita seolah berhenti. Kita seringkali ingin menukar diri kita dengan orang yang kita kasihi, saat orang itu dijemput kematian.

Hal ini juga yang dilakukan Howard Inlet. Dia yang selama ini memotivasi dirinya dengan tiga kata kunci yang dicintainya, yakni: Love, Time dan Death, berbalik membencinya. Ini tampak dalam surat-surat yang ditulisnya setelah anaknya meninggal.

“Dear love, good bye” sepenggal kalimat pendek yang ditulis Howard ini misalnya, tentu terasa sekali kekecewaan mendalam di dalamnya.

Jalinan cerita dalam film ini memang sederhana. Namun, justru dari kesederhanaannya, apa yang hadir di film ini terasa dekat dengan keseharian kita. Para pemeran pun juga seperti melebur dalam perannya. Mereka hadir dengan segenap keunikannya. Tidak ada efek audio visual yang mewah, malah menjadikan film ini megah dalam cerita yang mengusung tema biasa. Setiap orang punya masalahnya sendiri, tapi kadang, mereka meminggirkan sejenak masalah yang dialaminya untuk membantu menyelesaikan masalah sahabat atau orang terdekatnya.

“Dealing with death, Dealing with the unexpected”

 

Cinta, waktu dan kematian. Tiga kata yang menghubungkan diri kita, manusia yang tinggal di bumi ini. Kita tak akan lepas dari itu semua. Kita yang biasa hidup di kota besar, mungkin lebih banyak dikelilingi oleh tekanan, tapi kita percaya bahwa itu semua tidak mematikan pertemanan.

Film dengan tema kehilangan sepertinya biasa tapi sebenarnya tak mudah, terlebih jika ingin kita sebagai penonton menikmatinya. Sutradara dan penulis skenario pun musti memutar otaknya, sehingga pesan yang disampaikan bisa mengena tanpa harus terasa menggurui penontonnya lalu terjebak dalam akhir cerita yang klise atau sekedarnya saja.

Jadi, kecewakah saya? Xplorers tentu tahu jawabannya.

 

 

 

 

 

 

 

0 Shares