86 Shares

cakra buana poster

Sebuah film independen karya anak bangsa yang bisa dibilang cukup unik kembali mendapat kesempatan untuk melakukan pemutaran perdananya di Festival Film Balinale 2015. Kenapa unik? Karena film berjudul “Cakra Buana” ini adalah sebuah film musikal yang seluruh dialognya menggunakan bahasa Sunda!

Film ini diangkat dari sebuah web-series tahun 2013 yang berjudul “Dari Balik Kabut” produksi Massimo Burhanuddin berdasarkan naskah asli yang ditulis oleh Massimo Burhanuddin dan Getar Jagatraya. Awalnya, “Dari Balik Kabut” adalah sebuah proyek percobaan sebelum pembentukan produksi Cakra Buana. Kemudian di awal tahun 2014, Massimo dan Getar mulai menulis naskah untuk produksi film Cakra Buana. Massimo sendiri terinspirasi untuk menulis dan memproduksi sebuah film berbahasa Sunda yang disampaikan dengan nyanyian dan hampir tanpa dialog.

BTS5

BTS3

April 2014, produksi Cakra Buana resmi dimulai di kota Bandung. Produser memulai langkah pertamanya dengan mencari seorang sutradara potensial untuk produksi ini. Namun mencari seorang sutradara di perfilman independen itu cukup sulit, sehingga seluruh tim akhirnya menyarankan agar Massimo sendiri yang menyutradarai Cakra Buana. Melalui proses berpikir yang cukup lama, Massimo pun menyambut tantangan tersebut dan berproses bersama timnya untuk membuat film yang segar bagi penonton. Proses negosiasi dengan tim pun dimulai, tak terkecuali music director, yaitu Enry Johan Jaohari (terlibat pula di “Dari Balik Kabut”) yang harus segera memulai proses komposisi semua musik yang dibutuhkan Cakra Buana.

BTS4

Selain masalah sutradara, Cakra Buana juga sempat terkendala persoalan pemain. Karena hampir semua pemain yang terlibat di produksi “Dari Balik Kabut” tidak bisa ikut serta dalam produksi ini dikarenakan jadwal yang tidak cocok, dll. Maka dari itu diadakanlah open casting yang melibatkan para seniman, mahasiswa, dan masyarakat umum di kota Bandung. Setelah proses casting selesai dan semua pemain terpilih, proses latihan pun dimulai pada bulan Mei 2014. Selain latihan pengadeganan, latihan yang dilakukan lebih kepada latihan bernyanyi dan koreografi yang diinginkan sutradara demi mendukung keseluruhan cerita film.

Kali ini sutradara memberikan tantangan kepada timnya untuk melakukan pengambilan gambar di luar lokasi kota Bandung, yaitu di kota Tasikmalaya. Proses syuting sendiri memakan waktu 8 hari pada bulan Juni 2014. Dan proses paska produksi dilaksanakan di dua kota, yaitu Bandung dan Jakarta, sampai bulan maret 2015.

BTS1

Yang lebih menariknya lagi, film ini secara tidak langsung akan memperkenalkan beberapa beberapa instrumen tradisional sunda yang jarang digunakan dalam musik latar sebuah film, diantaranya Kacapi, Karinding, Beluk, dll. Dan saat film ini selesai, maka film ini akan menjadi film musikal pertama yang menggunakan bahasa dan musik Sunda bersamaan.

Buat kalian yang penasaran sama film ini, bisa langsung ke Cinemaxx Theater, Jl. Kartika Plaza, South Kuta Beach – Bali, pada tanggal 28 September 2015 jam 17:00 WITA. (gtr)

86 Shares