0 Shares

“The darkest places in hell are reserved for those who maintain their silence at times of crisis.”

inferno_ver4

Sinopsis:

Robert Langdon terbangun dengan kondisi anemia yang cukup parah dan ada sedikit jahitan di kepala di sebuah rumah sakit di Florence, Italia. Masih syok dalam memahami keganjilan kenapa dia bisa sampai ada di Italia, seorang polisi berseragam hitam-hitam datang ke rumah sakit untuk memburunya. Dibantu Dr. Sienna Brooks, Langdon berhasil lolos dari kejaran polisi tadi. Saat berada di apartemen milik Sienna, Langdon sedikit demi sedikit mulai membingkai kepingan-kepingan ingatannya, mulai dari surel yang dia baca sampai akhirnya dia menemukan sebuah tabung biohazard yang biasanya digunakan untuk membawa virus atau biokimia lainnya dalam saku jasnya dan jadi kunci pembuka untuk mencari tahu jawabannyasecara utuh kenapa Longdan diburu, bukan hanya oleh polisi, tapi juga oleh pembunuh bayaran dan WHO, organisasi kesehatan dunia.
Beberapa hari sebelum kejadian ini, tak jauh dari rumah sakit, Zobrist, seorang ahli genetik yang super kaya yang pemikirannya suka dipandang gila, melakukan bunuh diri dibanding harus mengungkapkan rahasianya kepada pemburu dirinya.

Review:
Jika di film sebelumnya, The Davinci Code dan terlebih di Angels & Demons, penonton dipaksa menyimak dengan seksama untuk menemukan potongan-potongan puzzle atau simbol-simbol yang harus dipecahkan agar bisa mendapatkan jawabannya dan ikut berpetualang bersama Langdon, di Inferno justru terlalu detail menjelaskannya sehingga buat penulis, film ini jadi kehilangan daya tarik (sama seperti di bukunya). Menjadi sedikit membosankan karena terlalu mudah ditebak akan seperti apa jalan cerita ke depannya.
Akting para pemainnya pun terbilang rata-rata, kurang mampu menggali emosi penonton untuk larut di dalamnya. Felicity Jones misalnya, dia terlihat kurang pas memainkan karakter Dr Sienna Brooks yang jadi tokoh utama selain Langdon (Tom Hanks). Justru penulis memberikan kredit tersendiri bagi pemeran provost (Irrfan Khan) yang mampu menghidupkan karakternya di film ini
Terlepas dari itu, film ini masih menyisakan magnet untuk dinikmati. Bagaimana kita dibawa ke beberapa tempat mulai dari Florence ke Venesia dan berakhir di Istanbul, Turki untuk melihat karya-karya seni nan apik dan ternama di dunia. Hal-hal ini sepertinya mampu membuat penonton ingin mencecapnya secara langsung.
Seperti halnya novel karya Dan Brown yang lainny, di Inferno kita juga disentil dengan kondisi sekarang. Overpopulasi, sumberdaya bumi yang semakin menipis sampai senjata biologi.
Apakah ada solusi yang ditawarkan di Inferno untuk kondisi kita saat ini?
Cerca trova …see and ye shall find … cari dan temukan sendiri tentu dalam filmnya.

Selamat menonton!

 

6.5/10

0 Shares