0 Shares

… ….

Kata-kata itu selalu menagih

Padaku ia selalu berkata

Kau masih hidup

Aku memang masih utuh

Dan kata-kata belum binasa

(Aku Masih Utuh Dan Kata-Kata Belum Binasa, 18 Juni 1997)

 

Sinopsis:

Wiji Thukul (Gunawan Maryanto) mengawali pelariannya dengan ketakutan, karena status baru menjadi buronan. Namun, Wiji Thukul tetap  menulis puisi dan beberapa cerpen dengan menggunakan nama pena lain.

Di Solo, Sipon (Marissa Anita) istri Wiji Thukul hidup bersama dua anaknya., Wani dan Fajar Merah. Sipon ditekan, rumah diawasi polisi, koleksi buku-buku disita dan beberapa kali Sipon digelandang ke kantor polisi untuk diinterogasi.

Review:

Gaung film Istirahatlah Kata-Kata sudah terdengar sejak akhir tahun lalu. Di beberapa media sosial, poster film ini marak dijumpai dengan sejumlah kalimat yang menyertainya: “Film wajib tonton nih tahun depan” merujuk ke 2017 ini. Ya, banyak yang tidak sabar menunggu film ini.

Saat yang dinanti pun tiba. 19 Januari 2017 menjadi penanda diputarnya film Istirahatlah Kata-Kata di jaringan bisokop yang ada di Indonesia dengan jumlah layar yang terbatas. Hanya ada 19 layar pada pemutaran hari pertama, yang membuat tiket ludes terjual di beberapa tempat hampir di semua jam pertunjukan.

Istirahatlah Kata-Kata memang membuat penasaran. Film yang mengisahkan seorang Wiji Thukul, buruh furnitur yang hilang sampai sekarang. Ya, Wiji Thukul yang meski saya tak mengenal sosoknya secara langsung namun saya akrabi dirinya lewat cerita-cerita yang mengalir dari mereka yang pernah bertemu dirinya. Yang kemudian saya akrabi puisi-puisinya.

Saya langsung tercekat saat puisi Wiji Thukul berjudul Istirahatlah Kata-Kata mengalir dari bibir seorang Gunawan Maryanto pemeran Wiji Thukul di film ini. Seolah-olah Wiji Thukul benar-benar hadir di tengah-tengah kita dengan kecadelannya yang khas. Lirih, merintih, perih namun tajam menusuk sanubari.

Istirahatlah Kata-Kata memang fokus pada sosok Wiji Thukul sebagai manusia biasa, yang punya rasa takut, yang menyimpan rindu kepada istri dan kedua anak-anaknya dan tentunya kehidupan dimana dia bisa melakukan aktivitasnya seperti biasa.

Marissa Anita berperan cukup apik sebagai Sipon, istri Wiji Thukul di film ini. Dialog-dialognya yang sebagian besar menggunakan bahasa Jawa ngoko (kasar) mengalir mulus dari bibirnya. Meski di beberapa skena, masih telihat begitu ‘metropolis’ untuk seorang Sipon, namun secara keseluruhan penampilan Marissa Anita patut diacungi jempol, selain Gunawan Maryanto yang begitu melebur menghidupkan ‘Wiji Thukul’  tentunya.

Kesepian dan kesunyian seorang Wiji Thukul sebagai buronan Orde Baru tersaji begitu menarik. Ini tentu tak lepas dari tangan dingin seorang Anggi, sapaan akrab Yosep Anggi Noen, sutradara sekaligus penulis dan salah satu produser film ini yang begitu jitu meramu alur cerita, gambar-gambar dan musik yang melatarinya. Jauh dari kata membosankan. Pemaparan situasi politik dan negara saat itu kadang dimunculkan lewat obrolan singkat atau siaran radio, sehingga tak mengganggu karakter sang tokoh utama yang ingin dimunculkan, Wiji Thukul. Ini juga mungkin karena Anggi melakukan riset dan observasi berbulan-bulan dan berusaha mendekatkan film Istirahatlah Kata-Kata di hati yang menontonnya.

Anggi juga pintar menyodorkan fakta tentang Wiji Thukul yang masih hilang sampai sekarang dalam filmnya. Kepahitan dan kegetiran begitu terasa menyelubungi film ini, meski humor dan adegan drama terselip di dalamnya.

Istirahatlah Kata-Kata, tak menyodorkan sesuatu yang rumit, hanya pahit. Sesuatu yang begitu dekat dengan keseharian kita. Karena begitu dekatnya dengan keseharian, lantas seringkali terabaikan. Film ini begitu menohok. Seorang bapak yang penuh cinta kasih terpaksa berpisah dengan istri dan kedua anaknya yang masih kecil karena kekejaman kekuasaan pada masa pemerintahan Orde Baru. Istri dan kedua anaknya yang sampai sekarang tak pernah tahu di mana sebenarnya keberadaan bapaknya. Hal yang tak hanya dialami keluarga Wiji Thukul, namun juga oleh keluarga orang-orang hilang lainnya.

Film Istirahatlah Kata-Kata seolah menjadi pengingat bahwa kita tak boleh lupa dengan dengan Wiji Thukul dan orang-orang hilang lainnya di luar sana. Bahawa kita yang mengaku generasi milenial, hendaknya mampu menjadi generasi yang mampu untuk terus menyuarakan kebenaran, melontarkan kritikan tanpa harus menaburkan kebencian demi sebuah hal yang bernama keadilan.

 

… … …

Tidurlah kata-kata

Kita bangkit nanti

Menghimpun tuntutan-tuntutan

Yang miskin papa dan dihancurkan

Nanti kita akan mengucapkan

Bersama tindakan

Bikin perhitungan

Tak bsa lagi ditahan-tahan

(Istirahatlah Kata-Kata, 12 Agustus 1988)

0 Shares