1 Shares

o-DANIEL-ZIV-facebook“Saya tertarik dengan cerita JALANAN bukan karena berambisi untuk menjadi pembuat film ataupun sekedar mencari ‘topik menarik’ untuk sebuah film dokumenter, tetapi karena suatu hari di jalanan Jakarta saya tidak sengaja menjumpai sekelompok individu dengan cerita perjalanan hidup menakjubkan yang tidak dapat saya acuhkan.

Cerita mereka adalah sebuah cerita dengan segala macam bahan racikan yang diinginkan seorang pembuat film dokumenter: pribadi yang menarik, isu ketidakadilan sosial yang mencengangkan, perjuangan individu yang memberi penerangan pada permasalahan universal, gurauan tak senonoh, sub-budaya perkotaan penuh warna, dan – sebagai bonus tambahan – lagu-lagu orisinil luar biasa yang terdapat dalam film JALANAN.

Pada saat saya mulai mengerjakan film ini, saya berpikir untuk membuat sebuah film pendek tentang komunitas pengamen jalanan, dunia, hidup serta karya musik mereka. Seiring berjalannya waktu, saya menjadi sadar bahwa dengan mengamati kehidupan mereka dari jarak yang begitu dekat, saya menemukan sebuah cerita yang begitu menarik dan penting untuk Indonesia, sebuah cuplikan pendek dari era pasca reformasi dari kacamata mereka yang terjebak dalam celah-celah ketidaknyamanan dari dua fenomena yang seringkali kita rayakan: demokratisasi dan globalisasi. Para pengamen yang saya angkat dalam film ini merasa begitu bangga akan dua hal tersebut,namun tidak mendapatkan apa pun dari keduanya.

Meskipun dalam film ini terdapat banyak momen mengharukan, perjuangan serta ketidakadilan, namun dalam film ini lebih banyak terdapat humor yang mengikat, musik yang mudah diingat, keindahan hidup dan harapan. Film ini bukanlah film yang menjejali penonton dengan tragedi. Taruhannya tidak setinggi di cerita lain – ini bukanlah cerita mengenai ribuan nyawa yang terancam, ataupun orang – orang yang mati tiap harinya dalam komunitas ini. Dan meskipun kondisi kehidupan para pengamen ini sangat mendasar, cerita bahkan bukan mengenai orang-orang termiskin dari golongan bawah. Sebaliknya, JALANAN menjelajahi kehidupan dari kaum marjinal yang terlupakan dari perhatian kehidupan bermasyarakat. Dilema dan konflik yang ada dalam film ini mewakili gambaran besar dari populasi urban di negara berkembang, khususnya 10 juta orang di Indonesia, dan ratusan juta lainnya di seluruh Asia. Film ini bermaksud untuk menyuarakan mereka, meningkatkan kesadaran akan kondisi dan perjuangan mereka.

Sementara masih banyak hal yang bisa kita pelajari dari JALANAN dan para tokoh protagonisnya, film ini disusun dan didandani sehingga dirasa tidak ‘menggurui’ ataupun terlalu ‘berat’ bagi para penonton. Saya tidak melihat ada masalah mengenai orang-orang menghentakan kaki atau tertawa keras dan menikmati sebuah film meskipun film tersebut bercerita mengenai kelompok miskin marjinal. Bagi saya hal itu merupakan langkah awal untuk benar – benar mengenal mereka, dan JALANAN bermaksud membawa penonton ke dalam dunia penuh warna sebagai peserta, bukan sebagai pengamat dari atas.

Kisah mereka juga merupakan cerminan provokatif di mana kita, dari bagian dunia yang lebih mapan, dapat merefleksikan hidup dan nilai-nilai yang kita anut, belajar dari sudut pandang sehari-hari dan kebajikan dari para karakter dalam film JALANAN. Mantra favorit Ho – yang selalu ia katakan kepada para penumpang setelah menghibur mereka (atau menyindir) dengan lagu-lagunya, adalah “Hidup itu harus dihidupkan!”

Tentunya sebuah saran yang sangat berguna untuk kita – kaya atau miskin – lakukan di era yang menggemparkan seperti saat ini.

1 Shares