0 Shares

~ City of stars, are you shining just for me? ~

 

 

Sinopsis:

Sebastian (Ryan Gosling)  adalah seorang musisi yang biasa memainkan musiknya (jazz) di kelab yang sayangnya dikemudian hari ditutup dan berubah fungsi bukan lagi sebagai kelab jazz. Sebastian juga punya mimpi memiliki kelab sendiri di mana dia bisa memainkan musik tanpa didikte siapa pun. Di tempat lain, Mia (Emma Stone) ingin mengejar impiannya menjadi seorang aktris. Untuk menggapai impiannya itu, Mia rela mengikuti ratusan audisi dan bekerja di kedai kopi yang berada di lingkungan para pelaku film membuat filmnya.

Review:  

Menempatkan dua hal yang berbeda dan sangat sulit disatukan nyatanya mampu diterjemahkan secara menarik dalam skena pembuka film La la land ini. Tengoklah para pengendara mobil yang terjebak kemacetatan di jalan layang yang kemudian memilih keluar dari mobilnya lalu menari dan bernyanyi dengan penuh riang dan begitu enerjik. Lagu Another day of Sun yg liriknya ditulis Benj Pasek dan Justin Paul dan musiknya digarap Justin Hurwitz ini terasa pas menggambarkan warna-warni yang akan muncul dalam film. Riang, menghentak tapi sebenarnya tersimpan kegalauan.

Berbicara soal film drama musikal dengan tema yang bagi sebagian orang sudah basi, karena mengangkat kisah anak-anak muda mengejar impiannya dan membalutnya dengan drama percintaan, tidak lantas membuat La la land menjadi basi dan tak layak dinikmati. Justru sebaliknya yang terjadi. Meski terasa datar di awal, namun Damien Chazelle, sang sutradara & penulis skenario yang pada 19 Januari nanti berusia 31 tahun, begitu piawai menarik penontonnya untuk tidak terjebak dalam kebosanan.

 

Mia (Emma Stone) dan Sebastian (Ryan Gosling) dua tokoh utama dalam film ini mampu menjadi magnet yang terus menyedot perhatian. Memang bukan kali pertama Emma Stone dan Ryan Gosling tampil bersama, jadi sepertinya chemistry yang terbangun diantara keduanya muncul begitu alami. Begitu terasa hidup. (terlebih saat mereka menonton film di bioskop dan berlanjut ke Griffith Observatory, hehe).

Begitupun halnya saat mereka muncul sendiri-sendiri. Karakter mereka sangat kuat dan begitu memikat. Tidak salah rasanya jika saya mengacungi dua jempol untuk akting mereka berdua di sini. Kabarnya, untuk berperan sebagai musisi Jazz yang pandai memainkan piano dan tak mau digantikan pemain pengganti, Ryan Gosling berlatih secara tekun, mati-matian 3 jam per hari selama 3 bulan. Belum lagi mereka berdua juga harus bernyanyi dan melakukan tap dance. Emma Stone, dalam salah satu wawancaranya juga bercerita, bahwa dia tadinya takut bermain di film ini karena dia merasa tak pandai bernyanyi. Namun, dia justru memberikan sentuhan tersendiri dengan suaranya yang serak, tak dipaksakan dan tetap enak didengar. Hal ini terasa begitu alami dan realistis. Saya begitu suka saat Emma Stone bernyanyi lirih di depan kaca dan juga momen ketika dia bernyanyi lagu “The Fools Who Dream” yang begitu menyentuh dan menusuk sanubari kita, lagu tentang seorang pemimpi yang tak lelah mengejar mimpinya. (Emma menyanyikan secara langsung di set dan semua orang yang ada di set saat itu tak ada yang tak basah matanya kala Emma selesai menyanyikannya). Ough!

Berbicara soal lagu, meski bergenre drama musikal/komedi, toh tak lantas mendominasi keseluruhan isi cerita. Porsinya cukup imbang dengan drama yang dibangun diantara Mia dan Sebastian. Kehadiran penyanyi kenamaan, John Legend, juga bukan sekedar tempelan. Percakapan yang muncul di semua adegan juga tak terdengar klise. Mungkin karena tema yang diangkat begitu dekat dengan keseharian kita, jadi seperti tak ada sekat. Mengalir indah menawan hati. Seperti hanya kostum yang dipakai para pemainnya (terutama kostum Mia) pasti membuat para perempuan ingin memakainya. Belum lagi urusan lokasi, sinematografi dan segi artistik serta palet warna yang ditampilkan dalam film, begitu cantik, menarik dan memanjakan mata.

~ How are you gonna be a revolutionary if you’re such a traditionalist? You hold onto the past, but jazz is about the future ~

Jika di awal cerita terasa lambat namun film ini mampu memberikan akhir kisah yang sangat berhasil menurut saya. Senang rasanya. Ditambah dengan lagu-lagu seperti City of Stars, Lovely Night, Start a Fire yang menjadi soundtrack film ini, menambah kepuasan tersendiri tentunya bagi saya.

La la land sukses menyodorkan menu sehari-hari tentang orang-orang yang punya mimpi dan berusaha terus untuk meraih mimpinya. Kenyataan tak semanis impian namun bukan berarti tak mungkin diwujudkan (saya jadi teringat film Whiplash, yang juga merupakan karya Damien Chazelle). Teruslah berusaha, mungkin itu yang ingin dikatakan sang sutradara. Karena, sebagai informasi saja nih, Xplorers, Damien Chazelle mengalami penolakan bertahun-tahun di Hollywood kala menawarkan konsep film La la land ini sampai akhirnya bisa dieksekusi dan tak disangka meraih 7 Golden Globes sekaligus. Jumlah terbanyak dalam sejarah Golden Globes untuk satu film. Penasaran? Selamat menyaksikan 😉

~ People love what other people are passionate about ~

0 Shares