0 Shares

Menuangkan cerita dari sebuah buku ke bentuk media lain (dalam hal ini film) tentu bukan hal yang mudah, begitu juga sebaliknya. Meski demikian, harapan yang muncul baik bagi penikmat buku maupun film tetaplah sama pada dasarnya, sama-sama ingin dipuaskan. Lalu, bagaimana jika novel klasik semi-autobiografi karya Louisa May Alcott yang begitu terkenal: Little Women kembali difilmkan?

Beberapa dari kita mungkin bertanya “apa maksudnya kembali difilmkan?”

Ya, Little Women sudah lebih dari 3 kali diadaptasi dalam versi layar lebar (jika kita berbicara bentuk adapatasi lainnya, mulai dari miniseri televisi, animasi Jepang sampai drama musikal, tentu lebih dari sepuluh jumlahnya). Untuk sedikit menyegarkan benak, mari kita coba rekam jejak versi film layar lebar yang sudah pernah diproduksi:

1917 – sutradara Alexander Butler dan Ruby Miller sebagai pemeran Jo. British silent film ini hampir bisa dibilang gagal.

1918 – sutradara Harley Knoles dan Dorothy Bernard (Jo March), dimana lokasi pengambilan gambar American silent film dilakukan di rumah Alcott dan sekitarnya yang berada di Concord, Massachusetts.

1933 – sutradara George Cukor dan Katherine Hepburn sebagai bintangnya menjadi perbincangan para kiritikus film karena kehadirannya dianggap tepat sesuai dengan kondisi masyarakat yang menontonnya saat itu.

1949 – Mervin LeRoy bertindak sebagai sutradara dan June Allyson sebagai pemeran utamanya.

1994 – sutradara asal Australia, Gillian Armstrong kembali mengadaptasi film ini dengan menunjuk Wynona Ryder sebagai Jo, Susan Sarandon sebagai Marmee, dan Christian Bale (Laurie). Film ini dianggap sebagai adaptasi terbaik dari novel Little Women yang tidak akan bosan ditonton berulang kali.

Nah, xplorers, sekarang kita bahas film Little Women yang terbaru yang rilis di Indonesia dari tanggal 7 Februari 2020 ya. Apa yang membuat film ini berbeda dibanding film-film yang diproduksi sebelumnya?

Alur cerita yang pasti. Versi terbaru dari film Litte Women produksi Sony Pictures yang menyerahkan kursi sutradara ke tangan Greta Gerwig (Lady Bird, 2017) sekaligus penuis skenarionya, mengajak kita tenggelam dalam plot maju-mundur yang diciptakan. Dibuka dengan adegan awal Jo March (Saorise Ronan) yang ingin mempublikasikan karyanya. Kemudian xplorers diajak mundur ke tujuh tahun sebelumnya lalu diajak lagi ke masa-masa Jo yang sekarang, begitu seterusnya sampai akhir film. Menjadi lebih menarik lagi karena ada penegasan cerita itu lewat narasi yang disampaikan. Pesan-pesan yang disajikan itu terasa pas baik di kondisi masa lalu maupun di masa sekarang. Gerwig begitu mumpuni dalam mentranformasikan banyak situasi dari kisah klasik milik Alcott ini lewat berbagai sudut pandang yang sangat menginspirasi dan tidak mudah dilupakan. Gerwig mampu menggarap literatur klasik dengan memberikan energi yang lebih baru atau modern tanpa mengkhianati esensi dari bukunya.

Begitu juga dengan pemilihan pemain-pemainnya. Saorise Ronan yang menjadi bintang dalam film ini luar biasa mencuri perhatian. Pemain lainnya? Tak kalah hebatnya dalam memerankan lakonnya. Tengok saja mulai dari Emma Watson (Meg), Florence Pugh (Amy), Eliza Scanlen (Beth), Laura Dern (Marmee), Timothée Chalamet (Theodore Laurence/Laurie/Teddy), Tracy Letts (Mr. Dashwood), Bob Odenkirk (Father March), James Norton (John Brooke), Jayne Houdyshell (Hannah), Louis Garrel (Friedrich Bhaer), Chris Cooper (Mr. Laurence) dan Meryl Streep (Aunt March). Semuanya begitu alami, bahkan pemain lain yang adegannya tidak seberapa (keluarga Hummel sebagai contohnya) juga hadir bukan sekedar tempelan.

Little Women bercerita tentang Jo, Meg, Beth dan Amy, kakak beradik dengan karakter yang berbeda dan juga punya mimpi yang berbeda-beda. Layaknya satu keluarga dengan 4 anak perempuan yang ada di dalamnya, pertengkaran juga ada kalanya terjadi. Namun kehangatan dan ikatan satu sama lain tetap begitu kuat, Karakter mereka meski dibuat Alcott pada masanya ternyata masih pas dengan gambaran zaman sekarang.  

Life is too short to be angry at one’s sisters – Jo

Palet warna untuk pakaian yang dikenakan para pemerannya juga didisain khusus untuk menonjolkan karakter mereka. Meg sebagai anak perempuan tertua dengan mimpinya yang bagi saudaranya terasa sederhana (menikah, punya rumah, dan berjuang bersama suami pilihanya) tampil dengan warna lavender dan hijau, Jo (suka menulis, cerdas, tomboy dan berjiwa bebas) dominan dengan warna merah dan indigo, Beth (suka musik, cenderung pendiam dan tenang serta paling baik hati kalau menurut saudaranya) berbalut busana dengan warna-warna merah muda dan coklat, dan Amy (si bungsu yang suka melukis/menggambar dan kadang penuh drama) menggunakan baju yang didominasi dengan warna biru muda. Sehingga tidak salah jika Jacqueline Durran dinominasikan sebagai Best Costume Design di perhelatan ke-92 Academy Awards (Oscars).

Sajian potret Amerika dan Eropa yang ditangkap oleh kamera dalam menghidupkan film itu juga begitu enak dilihat tanpa kesan berlebihan. Musiknya pun tepat porsinya. Belum lagi ketika adegan Jo mengikuti proses pencetakan buku Little Women pertamanya di perusahaan penerbitan, xplorers seakan dicerahkan bahwa untuk memproduksi sebuah buku butuh proses yang begitu menarik untuk diperhatikan. Belum lagi dialog-dialognya yang begitu mengena.

Women. They have minds, and they have souls, as well as just hearts. I’m so sick of people saying love is all a woman is fit for. I’m so sick of it. But I’m so lonely – Jo

Selain Best Costume Design, Little Women juga dinominasikan untuk kategori Best Picture (Amy Pascal), Best Actress (Saoirse Ronan), Best Supporting Actress (Florence Pugh), Best Original Music Score (Alexandre Desplat) dan tentunya Greta Gerwig untuk kategori Best Adapted Screenplay.

Grewig benar-benar berhasil mengadaptasi kisah klasik dengan sentuhannya yang khas dan satu kalimat yang diucapkan Jo dan pasti tidak akan xplorers lupakan begitu kelar menontonnya adalah …no one will forget Jo March.

0 Shares