0 Shares

~ melebur menjadi satu ~

 

img_20161219_153447

 

Sederhana dan hangat. Itu kesan yang tertangkap saat memasuki Ballroom Grand Kemang, Jakarta, pada 18 Desember 2016, tempat dihelatnya Malam Penghargaan Piala Maya yang ke-5 yang ditajuki 5ELEBRASI. Panggung mungil di tengah ruangan dengan kursi-kursi yang ditata sedemikian dekat di depannya, benar-benar menghapus sekat. Orkestra di kiri panggung dan grand piano di kanan panggung menjadikan sedikit sentuhan kemewahan di dalamnya.
img_20161219_153019

Para pelaku film, awak media, penikmat film Indonesia dan berbagai profesi lainnya benar-benar menyatu. Mereka bertemu, bertegur sapa, diwawancara, ditangkap kamera atau berlalu begitu saja. Hafiz Husni, Festival Director Piala Maya memang memenuhi janjinya. Janji yang pernah diucapkan saat pengumuman nominasi Piala Maya 2016  beberapa hari sebelumnya, bahwa Malam Penghargaan Piala Maya 2016 akan dibuat sedekat mungkin dengan penontonnya. Seperti perayaan Piala Maya yang kedua jika tidak salah.

 

img_20161219_152851

 

Ernest Prakasa, didapuk menjadi host malam itu. Candaan-candaan ringan ala Ernest yang kadang terdengar garing toh mampu menghidupkan suasana. Celetukan yang sesekali muncul dari tengah penonton menimpali celotehan Ernest atau para pembaca peraih penghargaan, seolah jadi penegas, bahwa Malam Penghargaan Piala Maya 2016 ini memang benar-benar terasa kekeluargaannya. Santai, tak kaku, kadang lucu, kadang serius semua melebur menjadi satu.

 

img_20161219_152909

 

img_20161219_153129

 

Meski begitu, pemilihan peraih penghargaan Piala Maya 2016 diolah dengan serius tentunya. Seperti halnya yang diungkapkan Rangga Wisesa, PR & Program Director Piala Maya. Rangga menjelaskan bahwa komite pemilih dibuat pusing untuk menentukan pemenangnya. Film-film yang masuk nominasi hampir merata keunggulannya. Peraih penghargaan Piala Maya 2016 adalah mereka yang memang layak menerimanya karena berbagai pertimbangan yang ada. Tak tanggung-tanggung, ada 180 orang yang masuk dalam komite pemilihan. Komite pemilihan itu sendiri terdiri dari komite umum, komite profesi dan komite kehormatan. Komite pemilihan terdiri dari orang-orang dengan beragam latar belakang. Mulai dari sineas, jurnalis, praktisi, musisi, kritikus film, akademisi, ilmuwan, aktivis, peneliti, perancang busana, ilustrator, hingga budayawan dari seluruh Indonesia. Luar biasa bukan?

Tanpa cela kah perhelatan ini? Tentu saja ada. Perayaan yang sudah disiapkan sedemikian rupa pasti ada saja ketaksempurnaannya. Masih sedikit kurang terkoordinasi diantara sesama panitia. Ini terlihat jelas dari jeda pergantian para pembaca peraih penghargaan dan jalannya acara. Hal-hal ini mungkin nantinya bisa diperbaiki di gelaran Piala Maya di tahun-tahun berikutnya. Kesederhanaan dengan mengedepankan suasana kekeluargaan tentunya akan lebih dan semakin menyenangkan jika benar-benar dipersiapkan secara matang. Yang pasti, kehadiran Piala Maya benar-benar diperhitungkan bagi industri perfilman Indonesia. Angkat topi untuk panitia penyelenggara dan para mitra yang mendukungnya. Sukses film Indonesia!

 

0 Shares