19 Shares

“What if our sins come and searching for us?”- Marlo

Beberapa diantara kita pasti percaya bahwa ada “kehidupan” setelah kita meninggal kelak. Hal tersebut dirasa beberapa kalangan sebagai “reinkarnasi”. Hal ini sendiri belum pernah dibuktikan secara ilmiah dan hanya melalui teori agama yang mempercayai hal tersebut. Rasa penasaran manusia terkadang dapat melebihi batas,bukan? Dan ketika mereka melewati batas tersebut, mereka akan mulai merasakan kepanikan dan hal -hal lainnya sebagaimana orang yang ketakutan. Lantas, apa yang akan kita lakukan jika sudah melewati “batas” tersebut?

Berdasarkan film yang dirilis pada tahun 1990 garapan sutradara Peter Filardi, Sony Pictures memutuskan untuk mere-make ” Flatliners” pada tahun 2017 ini. Disutradarai oleh Niels Arden Oplev, “Flatliners” menghadirkan Ellen Page, Diego Luna,Nina Dobrev, James Norton, Kiersey Clemons, Kiefer Sutherland yang terlibat dalam film rilisan 1990,Beau Mirchoff,Madison Brydges, Miguel Anthony,Jenny Raven dan Charlotte McKinney.

Setelah kejadian yang menimpa dirinya juga adik perempuannya,Tessa, Courtney Holmes ,seorang mahasiswi kedokteran yang tengah belajar di sekolah kedokteran TEMC, mengajak teman-temannya yakni Ray,Marlo,Jamie dan Sophia ke basement di bawah gedung sekolah kedokteran tersebut. Ternyata,Tessa melakukan sebuah eksperimen yang cukup berbahaya: mematikan dirinya sendiri selama beberapa menit lalu menghidupkannya lagi dengan bantuan dari teman-temannya tersebut untuk mencari kebenaran akan adanya aktivitas otak setelah “kematian”. Awalnya, semua yang melakukan “flatline” merasakan hal positif mulai dari kinerja otak mereka masing-masing namun lambat laun, ada sebuah efek samping yang dirasakan mereka yang melakukan “flatline”. Dan ketika salah satu dari kelima sahabat ini menjadi korban, mereka yang tersisa harus menghentikan eksperimen tersebut bagaimanapun caranya.

Apa sebenarnya yang terjadi pada sistem otak Courtney setelah melakuakn “flatline”?

Efek samping apa yang dirasakan mereka yang mengikuti Courtney untuk melakukan “flatline”?

Bagaimana cara mereka yang tersisa menghentikan hal buruk dari eksperimen “flatline” tersebut?

REVIEW:

Berdurasi 110 menit, “Flatliners” dibuka dengan opening yang cukup membuat penonton bertanya-tanya terlebih dengan sepenggal kata demi kata yang terdengar. Naskah yang ditulis oleh Ben Ripley (The Source Code) membuat alur cerita yang menarik untuk dinikmati. Konfliknya sendiri terbilang sesuai di era sekarang. Sayangnya, ada beberapa dialog “cheesy” atau tidak perlu diucapkan dan adegan yang agak “menganggu” kenikmatan cerita dari remake “Flatliners” ini. Untunglah, Peter Safran yang terlibat dalam remakenya sebagai produser tahu betul bagaimana harus membuat cerita semakin menarik. Pengalaman Safran sudah tidak diragukan lagi,bukan? Sebut saja “Annabelle: Creation” yang juga diproduserinya mampu menebar ketegangan dan ketakutan yang cukup membuat merinding penonton. Hal tersebut dilakukannya dalam remake Flatliners ini. Akting para castnya sendiri tidak terlalu baik meskipun deretan nama seperti Ellen Page, Nina Dobrev ada di dalam remake ini. Hanya Diego Luna yang tampil sebagai Ray yang saya akui berhasil “menyelamatkan” Flatliners dari kekurangan yang sudah saya sebutkan diatas tadi. Meski begitu, saya tetap menaruh hormat atas dilibatkannya kembali Kiefer Sutherland yang pada versi 1990nya berperan sebagai Nelson Wright. Sutherland yang dalam remakenya berperan sebagai Dr.Barry Wolfson tampil tegas layaknya pemimpin dan tidak segan-segan memberikan tatapan mengintimidasi yang baik. Scoring dari Nathan Barr sendiri cukup baik di beberapa scene terutama scene horrornya. Untuk remakenya , visualisasi ketika masuk dalam scene “flatline” sendiri terdeskripsi dengan baik.

Jujur, saya melihat remake ini sebagai bentuk atas penebusan dosa yang terdapat dalam versi 1990nya. Tampil sebagai remake yang kekinian dengan kadar horror yang standard dan mampu memberikan ketegangan bagi penonton serta memiliki pesan moral yang sangat sesuai dengan masyarakat dizaman sekarang, “Flatliners” masih layak untuk menjadi tontonan yang menghibur.

3,5/5

19 Shares