17 Shares

“If there’s too many white people I get nervous”- Chris Washington

Dalam tahap berpacaran selain mengenal diri satu sama lain sudah pasti kita harus bertatap muka dengan orang tua dari pasangan kita. Pernahkah orang tua kita mempermasalahkan ras atau suku dari pasangan kita? Apa jadinya jika orang tua kita malah menerima dia dengan baik? Apakah mereka punya maksud tertentu dengan pasangan kita?

Bulan lalu, Box Office Chart USA dikejutkan oleh sebuah film bergenre thriller-suspense-comedy yang berjudul “Get Out” yang merupakan debut penyutradaraan dari Jordan Peele,stand-up comedian sekaligus legenda dari Comedy Central yang hanya berbudget $4,500,000,- saja sampai review ini ditulis ,pendapatan domestic dari Get Out sudah mencapai angka  $149,530,070 dan $156,300,000 secara Worldwide. Opening Weekendnya saja sudah menghasilkan $33,377,060 sekaligus menjadikan film pertama dari Blumhouse Production yang meraih pendapatan terbesar sepanjang produksinya. “Get Out” melakukan World Premierenya pada Sundance Film Festival, 24 Januari 2017 dan dirilis di Amerika pada 24 Februari 2017. “Get Out” dibintangi Daniel Kaluuya, Allison Williams,Bradley Whitford,Catherine Keener,Caleb Landry Jones,Lil Rel Howery,Betty Gabriel,Marcus Henderson,LaKeith Stanfield,Stephen Root dan Erika Alexander.

Empat bulan sudah Chris Washington,seorang fotografer freelance berpacaran dengan Rose Armitage. Kini tiba saatnya Chris bertemu dengan orangtua Rose, Dean dan Missy Armitage juga adik Rose,Jeremy Armitage. Keanehan mulai dirasakan Chris ketika melihat kedua pelayan rumah keluarga Armitage yang satu kaum dengannya, Walter dan Georgina yang terlihat “aneh” seperti zombie. Keanehan tersebut makin menjadi-jadi ketika Chris bertemu dengan salah satu kawannya yang dikabarkan menghilang 6 bulan lalu, musisi Jazz Andre Hayworth namun dalam wujud berbeda. Chris mulai merasa paranoid melihat banyaknya orang kulit putih di kediaman Armitage namun itu hanya awal dari ketakutan Chris setelah Ia menyadari apa tujuan sebenarnya dari keluarga Armitage. Kunjungan yang awalnya hangat berubah menjadi ketegangan.

Mampukah Chris melarikan diri dari rumah keluarga Armitage?

Apa sebenarnya yang direncanakan keluarga Armitage? Mengapa hanya orang kulit hitam yang dincar?

REVIEW:

Banyak film yang memadukan unsur komedi dengan horror namun hasil akhirnya jatuh menjadi tidak menyeramkan. “Get Out” yang merupakan debut penyutradaraan Jordan Peele memadukan unsur kritik sosial dan juga isu yang dulu familiar dengan kaum kulit hitam (bahkan sudah difilmkan,red) dan membuat isu tersebut menjadi sebuah daya tarik untuk menakuti penonton yang berjalan secara efektif. Awal film, penonton akan mulai dibuat merasa tidak nyaman dengan opening yang cukup memulai tone dan effort dari seluruh team yang bekerja keras untuk film ini. Plot film ini cukup ambigu dan penuh intrik. Peele membuat penonton terkejut dengan pengembangan karakter dan dialog yang memancing. Masih dengan elemen comic, Peele membuat salah satu karakternya untuk membangun plot yang dibangun berdasarkan narasi dan kepribadian karakternya.

“Get Out” turut didukung oleh performa gemilang dari Daniel Kaluuya, Allison Williams dan Lil Rel Howery. Lil Rel Howery sendiri dalam film ini menjadi scene stealer lewat dialognya yang memancing tawa penonton dan diprediksi menjadi prospek baru dalam perfilman Hollywood. Daniel Kaluuya sukses membawa penonton merasakan menjadi Chris lewat ekspresi wajah dan pergerakannya. Allison Williams sebagai Rose Armitage juga cukup baik perannya,namun dimana Get Out mengejutkan adalah ambiguitasnya. Sepanjang film berlangung tone yang dirasakan penonton adalah creepy. Interaksi antar karakter terasa awkward dan tidak nyaman sampai penonton merasakan menjadi bagian dari stigma menganggu sepanjang narasi film ini. Namun ambiguitasnya berhasil membuat penonton tetap stay di tempat duduk.

Meskipun ada beberapa scene menakut-nakuti yang tidak sesuai dengan plotnya bahkan terpisah dari first dan second act, Get Out tetaplah sebuah narasi yang menawan terisi dengan konflik bertentangan yang mengisi dirinya sendiri dengan dialog ala comic untuk meringankan tensi dari momen sederhana sampai horrornya tiba dan berlanjut menelan pikiran penonton. Meskipun act ketiganya menyimpang dari original tone yang diusung, Get Out membangun dirinya menjadi sebuah film provokasi yang nampaknya  berhasil menyambungkan antara kritik dan komentar sosial yang tajam dengan comedy/horror yang efektif dan cerdas yang disupply dengan screenplay yang siap membuat penonton merasa tidak nyaman di tempat duduknya.

4,5/5

 

 

17 Shares