15 Shares

“Your shell is belong to them. But your ghost… is yours”- Kuze

Reinkarnasi. Istilah ini tentu terasa familiar di benak kita,bukan? Memiliki kehidupan dengan tubuh yang baru,merasakan kembali apa yang dulu pernah dilakukan,dirasakan terasa agak aneh pada awalnya bagi kebanyakan orang. Namun bagaimana jika reinkarnasi tersebut malah berujung malapetaka yang dimana malah menghilangkan semua ingatan masa lalu kita?

Siapapun para otaku (pecinta anime,red) sudah tidak asing lagi dengan “Ghost In The Shell” bukan? Manga bergenre crime dan bersetting di Jepang yang sudah futuristik ini sudah mendapat tempat di hati para pecinta anime bahkan pembaca komiknya sejak pertama kali diterbitkan pada tahun 1989 dengan sub-judul “The Ghost In The Shell” yang dikarang oleh Masamune Shirow ini sudah diadaptasi menjadi Video Games, Anime Movie, TV Series bahkan OVA (Original Video Animation). Hollywood pun tidak mau ketinggalan. Lewat tangan Rupert Sanders dan didistribusikan oleh Paramount Pictures, Live-Action versi baratnya pun lahir dan dibintangi aktor-aktris papan atas Hollywood dan juga beberapa cast dari Jepang seperti Scarlett Johansson, Beat Takeshi Kitano,Pilou Asbaek, Michael Pitt,Chin Han,Juliette Binoche,Lasarus Ratuere,Yutaka Izumihara,Tawanda Manyimo,Danusia Samal,Pete Teo,Yuta Kazama,Rila Fukushima dan Peter Ferdinando.

Jepang abad 21. Manusia dan mesin tidak dapat dibedakan lagi bahkan di zaman tersebut manusia sudah disatukan dengan suku cadang robot yang membuat mereka terlihat seperti cyborg. Seorang wanita misterius dengan kode Project 2571 bernama Mira Killian menjadi yang pertama dalam operasi pencangkokan otak dan dilahirkan kembali dengan sebutan “Major”. Major ditugaskan bersama Sector 9 yang dikepalai oleh Chief Daisuke Aramaki untuk memerangi teroris. Ketika beberapa ilmuwan Hanka Robotics,perusahaan yang memproduksi cyborg tewas oleh seseorang yang bernama Kuze yang setiap melakukan aksinya meninggalkan bekas seperti peretasan jaringan di korbannya. Major bersama Sector 9 bertindak cepat mengejar Kuze dan menghentikannya. Namun ┬áditengah pengejaran Kuze, Major merasa ada sesuatu yang aneh dengan dirinya.

Apa yang terjadi dengan Major?

Dapatkah Sector 9 menghentikan niat jahat Kuze?

REVIEW:

Hollywood sebenarnya sudah pernah mengadaptasi anime menjadi Live-Action lewat “Dragon Ball: Evolution” yang kala itu mengundang amarah dari para fans dan pecinta serial anime yang komiknya dikarang Akira Toriyama. Masalah dari film ini cukup banyak mulai dari cerita yang berantakan, CGI yang tidak mulus sampai miscast para pemeran terutama pemeran Son Goku. Oke, kita lupakan yang satu itu.

Rupert Sanders mampu mengemas “Ghost In The Shell” dengan baik tanpa melupakan esensi anime/manganya (termasuk Shelling Sequence yang terlihat mirip dengan movie animenya pada tahun 1995,red.) terlebih dengan visualisasi Jepang yang futuristik dan juga adegan aksi yang banyak menggunakan efek Slo-Mo. Meski di paruh dua-tiga jam selanjutnya terasa membosankan, Sanders mengemas finishing actnya dengan brilian. Scarlett Johansson yang berperan sebagai Major mampu memperlihatkans sosok seorang leader yang tengah mengalami konflik setelah dirinya mendapat tubuh baru. Beat Takeshi Kitano sebagai Chief Daisuke Aramaki memberikan aura yang pembaca manganya rasakan lewat kepemimpinannya dan pengambilan keputusan yang bijaksana. Juliette Binoche sebagai Doctor Ouelet mampu memerankan sosok ilmuwan yang sudah mengetahui apa yang dilakukannya namun tetap menutupinya. Sedangkan sosok Dr.Cutter yang diperankan Peter Ferdinando menambah tensi dan emosi lewat keangkuhan dan kearoganan karakternya. Tidak hanya itu, kendaraan Honda NM4 Vultus nampaknya akan memancing para penonton untuk memilikinya disamping desainnya yang futuristik,tentunya.

Scoring bernuansa Jepang dan futuristik banyak ditemui dalam film ini. Tidak terlepas dari hasil kerja Clint Marsell dan Lorne Balfe. Kami sangat menyaranakn format 3D dikarenakan banyaknya adegan yang mendapat pop-up maksimal dalam Ghost In The Shell. Overall, Ghost In The Shell merupakan adaptasi anime yang digarap Hollywood dengan sangat memukau mulai dari visualisasi dan aksinya tanpa melupakan esensi dari anime/manga karangan Masamune Shirow tersebut.

4/5

 

15 Shares