22 Shares

“All this running and hiding makes me more miserable”- Tree Gelbman

Ketika seseorang merayakan ulang tahunnya, apa yang ada dalam pikirannya? harapan akan umur panjang, cepat bertemu jodoh atau malah menganggap tidak ada yang spesial dari ulang tahunnya tersebut. Seringkali, seseorang ketika mendapatkan “kejutan” dari rekan-rekan terdekatnya ketika diucapkan selamat ulang tahun terkesan menerima dari luar namun di dalam , Ia merasa “ah, untuk apa sih mengucapkan ulang tahun? toh, hanya bertambah umur saja”. Kami yakin kalian yang membaca review ini pasti pernah beranggapan demikian bukan. Lantas, bagaimana jika hari ulang tahun kalian menjadi hari yang harus kalian terus-menerus ulangi ?

Universal Pictures siap meramaikan Halloween yang jatuh pada 28 Oktober dengan merilis “Happy Death Day”, sebuah film horror bergenre thriller-slasher yang diproduseri oleh Jason Blum lewat Blumhouse Productionnya. Disutradarai oleh Christopher B.Landon (Paranormal Activity: The Marked Ones), “Happy Death Day” menghadirkan Jessica Rothe yang turut membintangi “La La Land” sebagai salah satu teman Mia, Alexis dalam satu scene dimana mereka menyanyikan lagu “Someone in The Crowd”, Israel Broussard, Ruby Modine,Rachel Matthews, Charles Aitken, Jason Bayle, Phi Vu,Rob Mello dan Cariella Smith.

Tree Gelbman adalah seorang mahasiswi Bayfield University yang memiliki sifat buruk. Dan ini adalah hari ulang tahunnya. Ia terbangun di kamar yang ditempati oleh Carter Davis dan memulai aktivitas seperti kebanyakan mahasiswi yang perangainya buruk. Dan di malam harinya, Tree di kejar oleh seseorang yang mengenakan topeng maskot Baby yang menjadi kebanggan Bayfield University. Ketika Tree menemui ajalnya di tangan si pembunuh, hal aneh terjadi. Tree kembali mengulang hari ulang tahunnya tersebut dengan situasi yang sama, berulang-ulang. Tree kini harus mengungkap siapa orang yang mencoba membunuhnya tersebut sekaligus memecahkan kasus pembunuhannya sendiri. Kejadian ini ternyata juga membuka diri Tree untuk mulai melihat kedalam dirinya mengenai sikapnya di sekitar teman-temannya sekaligus mulai melakukan investigasi terhadap masing-masing dari mereka mulai dari Danielle Bouseman, pemimpin Sorority House sekaligus geng Kappa Girls, Lori Spengler, teman sekamarnya, Gregory,dokter sekaligus dosen mata kuliahnya,Tim Bauer, pria yang menyukai Tree sampai menyeret nama seorang buronan kasus pembunuhan gadis muda, Joseph Tombs.

Siapa yang sebenarnya membunuh Tree diantara orang-orang tersebut ?

Apa yang dirasakan Tree dalam “loop” kejadian di hari ulang tahunnya secara terus-menerus?

REVIEW:

Penulis tahu bahwa kalian yang membaca review ini sangat menantikan “Happy Death Day”. Pasalnya, genre film ini adalah sesuatu yang sempat menjadi tren di era 90’an dimana film-film bergenre slasher dengan fokus utama sekelompok remaja yang dikejar-kejar pembunuh banyak diproduksi. Dua dari film tersebut yang menjadi pionirnya adalah “Scream” dan “I Know What You Did Last Summer”. “Penonton pun akan dibuat tercengang ketika sebelum film dimulai, logo Universal Pictures sendiri seperti memberikan gambaran apa yang akan terjadi dalam film ini. Bagi para penikmat film slasher, “Happy Death Day” memang dirancang sebagai film dengan genre tersebut akan tetapi kualitasnya berbeda. Secara kualitas, penonton akan mengcomparenya dengan “Scream”.Landon yang terbiasa dengan hal-hal soal “looping” seakan tahu kapan harus memberi kiasan kepada penonton dan menjatuhkannya.

Hal tersebut terlihat dalam alur cerita dimana Jessica Rothe yang sebenarnya berusia 30 tahun dengan baik memerankan sosok Tree Gelbman. Sosok urakan seorang mahasiswi yang tidak peduli meskipun Ia sedang berulang tahun berhasil dibawakannya. Terlebih  ketika Ia berekspresi ketika Tree menjalani hari yang sangat berat, penonton akan terbawa rasa iba dan mulai peduli dengan sosok Tree. Misteri dalam film ini terbangun cukup baik dimana “misinterpretasi” masih menjadi kunci untuk membuat penonton tetap menebak-nebak siapa yang berada dibalik topeng Baby tersebut. Topeng “Baby” Mascot ini juga menjadi nilai plus tersendiri karena tidak ada yang menyangka seorang maskot bayi bisa menjadi sangat “menyeramkan” ketika meneror. Sosok Lori yang diperankan oleh Ruby Modine juga cukup baik. Modine mampu memerankan sosok Lori yang karakternya sudah biasa terlihat dalam film-film bertema seperti ini.

“Happy Death Day” tidak melulu menampilkan ketegangan namun juga ada humor di beberapa scene seperti ketika loop hari yang dijalani Tree kembali terulang secara terus-menerus. Naskah yang ditulis oleh komikus Scott Lobdell tidak akan mengecewakan penonton dengan ending “suprising”. Petunjuk-petunjuk yang tersebar sepanjang film sangat menarik dan detail diperlihatkan kepada penonton sehingga mereka akan terus menebak. Paruh terakhir “Happy Death Day” sayangnya mengikuti formula yang sudah biasa terlihat dalam film bergenre slasher namun penonton tidak akan kecewa dengan ending yang tersaji. Hal tersebut didukung pula oleh score yang digarap Bear McCreary. Deretan lagu-lagu yang terdapat dalam film ini juga membangun suasana mulai dari yang klasik seperti “Happy Birthday to You” sampai lagu pop seperti “Confident” dari Demi Lovato, “Since I Don’t Have You” dari The Lumineers, dan “Ophelia” dari The Lumineers.

Overall, “Happy Death Day” sangat fun dan memberikan ketegangan yang dirasakan ketika kalian menyaksikan “Scream” dibalut dengan komedi yang segar serta desain topeng sang pembunuh yang cukup menebar teror. Bukan tidak mungkin film berbudget $4,800,000 akan mendapat sambutan hangat dari kalian para pecinta film thriller-slasher.

4/5

 

 

22 Shares