6 Shares

Director: Naoko Yamada

Written by: Reiko Yoshida

Music: Kensuke Ushio

Seiyuu (pengisi suara) : Miyu Irino,Saori Hayami,Aoi Yuki,Kensho Ono,Yuki Kaneko, Yui Ishikawa,Megumi Han, Toshiyuki Toyonaga,Ryo Nishitani, Takuya Masumoto, Fuminori Komatsu, Satsuki Yukino, Akiko Hiramatsu, Ayano Hamaguchi,Erena Kamata,Ikuko Tani, Ryunosuke Watanuki

“Friendship is something that defies both words and logic”- Nagatsuka Tomohiro

Menjadi seseorang yang dibully karena keterbatasan? hal ini sudah tidak lazim dan tidak aneh bahkan sering ditemukan dalam kehidupan nyata. Dampaknya kadang berpengaruh kepada psikologis dari orang yang kita hina keterbatasannya. Bahkan kita sendiri si pelaku bisa saja menrasakan dampak dari apa yang kita perbuat. Ketika kita kembali berjumpa dengan orang tersebut dan kesempatan menebus kesalahan muncul, akankah kita berani menatapnya dan menatap mata orang-orang sekeliling kita ,terdekat kita yang bahkan menjuluki kita karena kesalahan kita di masa lalu?

Setelah demam “Kimi no Na wa/Your Name” yang berhasil ditayangkan di Indonesia pada 2016, Moxienotion-Encore Films Indonesia kembali menayangkan satu lagi anime movie yang sangat dinanti-nantikan oleh para penonton bahkan banyak komentar yang meminta film ini ditayangkan. Ya, “Koe no Katachi ” atau dalam International Titlenya ” A Silent Voice”/ “The Shape of Voice” ini menjadi salah satu anime movie yang cukup mencuri perhatian selain di Jepang. Manganya sendiri dikarang serta diilustrasikan oleh Yoshitoki Oima. Di Indonesia, manganya diterbitkan oleh M&C! berjumlah 7 volume.

“Koe no Katachi” dimulai ketika sekolah tempat Shoya Ishida belajar kedatangan seorang murid perempuan yang memiliki keterbatasan dalam hal pendengaran dan komunikasi bernama Nishimiya Shoko. Shoya pun membully Shoko sampai pada titik puncaknya, Shoko memutuskan pindah ke sekolah lain dan Shoya mendapat ganjaran dijauhi oleh teman-temannya sampai masa SMA bahkan dicap sebagai tukang bully saking parahnya kesalahan yang dilakukannya di masa lalu. Ketika Ia kembali bertemu dengan Shoko, Shoya memutuskan untuk menebus apa yang menjadi kesalahannya dimasa lalu dengan Shoko. Diantara cinta dan persahabatan, kedua nya mulai menjalin komunikasi namun keduanya tidak menyadari bahwa kesalahan Shoya menyebabkan mereka sama-sama memiliki niat yang tidak pernah disangka.

Apa sebenarnya yang dilakukan Shoya ketika SD?

Niat apa yang dimiliki oleh keduanya setelah kejadian semasa SD tersebut?

REVIEW:

Berdurasi 129 menit, “Koe no Katachi” sudah dirilis 17 September 2016 di Jepang. Awal mula film ini berjalan seperti halnya real-life ketika kita sedang berada di sekolah, bertemu murid baru yang tidak kita sukai sampai akhirnya kita menghina,mengejek,mengerjainya. Sama seperti cerminan hidup. Emosi antara Shoko dan Shoya tergambar secara visual. Ketidakmampuan Shoya untuk berinteraksi dengan orang-orang setelah apa yang dilakukannya di masa lalu membuat penonton merasakan seperti apa yang pernah mereka alami. Kehadiran sosok Naoka Ueno seperti mewakili sosok perempuan yang ada di real-life kita. begitupula dengan sosok Miki Kawai yang sifatnya sebagian besar dimiliki kebanyakan perempuan di belahan bumi manapun mereka hidup. Sayangnya, meski powerful secara visual dan pesan moral yang positif dengan anti-bullying, “Koe no Katachi” kedodoran di sela pertengahan karena plotnya terlihat loncat dari satu plot ke yang lain. Meski begitu, film animasi ini tetap wajib untuk disaksikan.

4.5/5

“Koe no Katachi” masih tayang di CGV Cinemas.

 

 

6 Shares