0 Shares

Sutradara: Tim Burton

Pemain: Eva Green, Asa Butterfield, Samuel L. Jackson, Judi Dench

SINOPSIS

Sejak kecil, Jake selalu mendengar kisah-kisah unik tentang Nona Peregrine dan anak-anak istimewanya yang tinggal di rumahnya. Semua kisah itu Jake dengar dari Abe, kakeknya.

Tak ada yang percaya dengan cerita Abe, termasuk ibu dan bapak Jake. Sampai suatu hari Abe terbunuh secara misterius dan satu-satunya jalan Jake untuk menemukan jawaban dari terbunuhnya Abe adalah dengan mengunjungi rumah Nona Peregrine dan membuktikan bahwa cerita Abe benar adanya.

 

REVIEW

Sulit rasanya untuk tidak mencintai film-film karya Tim Burton. Nuansa gelap yang dibalut dengan misteri dan cerita yang tidak jauh dari kisah orang-orang yang “berbeda” dari orang umum kebanyakan seperti sudah melekat di dalam gen film-film Tim Burton.

Tapi saya (sebagai salah satu penggemar berat film-film karya Tim Burton) melihat bahwa sutradara yang mirip sama vokalis band “The Cure”, Robert Smith ini seperti kehilangan sentuhannya setelah film “Planet of the Apes”.

Sedikit info, film tentang para primata itu adalah film Burton yang mendapat penilaian buruk tidak cuma dari penonton tapi juga dari kritikus film diluar sana. Bahkan film itu lebih buruk dari film buruk Burton lainnya, “Mars Attack”.

Kisah ini mungkin mirip dengan kasus M. Night Shyamalan. Dimana setelah film “The Village”, Shyamalan kehilangan sentuhannya dan terus membuat film-film buruk sampai sekarang. Masih ingat betapa buruknya “Lady in the Water” atau “The Last Airbender”? Ah sudahlah.

Miss Peregrine’s Home for Peculiar Children

“Miss Peregrine’s Home for Peculiar Children” (MPHFPC) menjadi film terbaru yang disutradarai Burton. Membaca sinopsisnya dan beberapa bocoran foto-foto film tersebut, senyum saya muncul begitu saja. Karena disana saya melihat ada ciri khas dari Burton. Reaksi saya ketika itu adalah, “ini baru Tim Burton”. Harapan dan ekspektasi tinggi pun datang.

Tapi memang sebaiknya harapan tidak berada jauh diatas langit. Trailer film MPHFPC lalu muncul. Dan reaksi saya ketika selesai menontonnya, “ini Tim Burton apa film ‘X-Men’-nya Bryan Singer?”

Disana ada rumah Miss Peregrine yang mirip dengan sekolah untuk anak-anak mutan milik Profesor X. Isinya di rumah itu? Anak-anak dengan kekuatan spesial, sama seperti murid-murid di sekolahnya Profesor X.

Lagi-lagi saya kecewa. Ini rasanya seperti kamu lagi makan rendang, terus kamu yakin yang kamu makan itu rendang, ternyata pas digigit, itu adalah lengkuas. Kecewa rasanya.

Tapi meski kecewa dengan materi promosi film MPHFPC, saya selalu menyimpan harapan kecil di sudut hati saya kalau film ini akan menjadi titik balik Tim Burton untuk mendapatkan sentuhannya lagi.

Karakter Utama yang Buruk

Tapi lagi-lagi saya dikecewakan saat film sudah berjalan sekitar 15 menit. Saya tidak dapat mengidentifikasi diri saya dengan karakter utama andalan Burton.

Asa Butterfield yang berperan sebagai Jake berakting sangat buruk. Mungkin itu alasannya kenapa Butterfield jarang mendapat film-film kelas A dalam karier aktingnya.

Dan entah kenapa Burton menjatuhkan pilihannya kepada Butterfield. Dia karakter utama yang buruk, ekspresinya tidak ada. Datar. Saya bahkan tidak percaya karakternya punya perasaan. Buttefield seperti berada ditengah-tengah karakternya, tidak ‘menjadi’ Jake.

Pun dengan penempatan Samuel L. Jackson di film ini. Aneh rasanya melihat akting Samuel L. Jackson yang seperti dipaksakan dan berlebihan.

Dari sekian banyak karakter di film ini, hanya Eva Green saja yang menarik perhatian saya. Bukan, bukan karena aktingnya. Tapi karena dia cantik aja.

judes-judes cantik gimana gitu
judes-judes cantik gimana gitu

Spesial Efek Make Up VS CGI

Tim Burton adalah salah seorang sutradara yang sangat detail di spesial efek make up. Masih ingat betapa dahsyatnya spesial efek make up Edward Scissorhands atau Penguin di “Batman Returns”?

Tapi sama seperti di beberapa film sebelumnya, di film MPHFPC, Burton seperti kebingungan memadukan spesial efek make up andalannya dengan CGI canggih milik Hollywood. Di beberapa scene tampak spesial efek make up tidak berpadu baik dengan CGI. Bahkan saking buruknya spesial efek make up di film ini membuat scene-scene yang harusnya kuat jadi kelihatan lemah.

Tapi selesai film, saya jadi berpikir, apakah ini memang konsep dan dilakukan dengan sadar? Karena buat yang mengikuti film-film Tim Burton pasti tahu kalau film-film Burton banyak terpengaruh dari film-film kelas B. Jadinya ada sedikit alasan kalau memang spesial efek make up yang buruk di film MPHFPC dilakukan dengan sengaja. Hmmm.

Cerita Ala Teori J.J. Abrams

Dalam sebuah acara, J.J. Abrams pernah membocorkan gaya bertutur cerita dari film-film yang dia buat. Menurut Abrams, sebuah cerita yang baik adalah cerita yang memiliki unsur misteri di dalamnya. Unsur misteri tersebut berfungsi untuk membuat penonton penasaran dan akan selalu duduk di kursinya sampai film selesai.

Abrams menyebut teori bertuturnya itu dengan “Mystery Box Theory”.

Ini yang saya maksud,

Hampir satu jam lebih film MPHFPC berjalan, kita disuguhi oleh misteri-misteri yang berlapis. Dan memang itu berhasil membuat saya penasaran. Siapakah ini? Apa yang terjadi? Apakah itu? Kenapa begini? Kenapa begitu? Kok jadi kayak judul buku ensiklopedia waktu kecil? Ok, tiga pertanyaan terakhir tidak ada hubungannya dengan film MPHFPC.

Tapi untuk dapat mengerti dari semua misteri berlapis di film ini diperlukan konsentrasi tinggi. Karena kalau tidak, kamu akan kehilangan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang muncul.

Apalagi kamu nonton habis pulang kerja, seharian meeting, kerjaan numpuk, di jalan ke bioskop macet.. (jadi curhat).

Cerita dalam film MPHFPC pun sangat padat. Sangat sulit untuk menemukan plot hole dalam ceritanya. Mungkin ada pengaruh dari bukunya. Jadinya penulis skenario tetap menjaga inti cerita dari bukunya dan membuat cerita dalam film ini jadi sangat padat.

Oh iya, cerita dalam film MPHFPC ditulis berdasarkan novel karya Ransom Riggs tahun 2011 berjudul sama dengan filmnya.

Buat saya keseluruhan film ini sangat menghibur. Karena Burton memasukkan unsur komedi dalam cerita. Apalagi jelang berakhirnya film ini, banyak sekali unsur-unsur dari ciri khas Tim Burton yang dimunculkan. Melihat hal itu rasanya seperti melihat kejayaan Burton di era 90-an.

Tapi kalau ditanya apakah Tim Burton sudah menemukan kembali sentuhannya? Saya akan jawab belum. (GTR)

 

Rating: 7/10

0 Shares