12 Shares

“You may be a great detective, but you’re a terrible father”- Haruka Sawamura

Obsesi. Hal yang satu ini nampak melekat dalam diri manusia. Sesuatu yang awalnya hanya menjadi minat kini menjadi sebuah keharusan yang harus dipenuhi. Terkadang ada yang menggunakan obsesi tersebut dengan maksud baik dan ada pula yang menyalahgunakannya. Bagaimana jika “membunuh” dianggap sebagai sebuah obsesi dan seni?

Sukses memvisualisasikan adaptasi manga “Rurouni Kenshin” atau “Samurai X” karangan mangaka Nobuhiro Watsuki menjadi trilogy, Keishi Ohtomo kembali menggarap sebuah film bergenre thriller yang diadaptasi kembali dari manga berjudul¬†“Museum” (Museum: The Serial Killer is Laughing In The Rain) karangan mangaka Ryousuke Tomoe. Dibintangi oleh Shun Oguri,Shuhei Nomura, Machiko Ono,Tomomi Maruyama,Tomoko Tabata,Mikako Ichikawa,Masato Ibu,Nao Omori,Yutaka Matsushige dan Satoshi Tsumabuki. Film ini sudah dirilis di Jepang pada 12 November 2016 dan Moxienotion kembali dipercaya untuk menayangkan film ini di Indonesia.

Hisashi Sawamura adalah seorang detektif dari Kepolisian Tokyo yang selalu disibukkan oleh pekerjaannya sampai lupa membagi waktu dengan Haruka ,istri dan Shouta, anak mereka. Sebuah kasus kembali dihadapi Sawamura bersama partnernya, Nishino. Rangkaian pembunuhan sadis terjadi di Jepang dan sang pembunuh yang mengenakan topeng kodok serta jas hujan hanya beraksi ketika hujan turun. Lebih anehnya lagi, di setiap TKP, pelaku meninggalkan catatan yang memperlihatkan nama hukuman yang dijatuhkan ke masing-masing korban seperti “Dog Food Penalty”, “Pain of Mom Penalty” sampai ” “Beauty Forever Penalty”. Kasus ini ternyata berkaitan dengan kasus 3 tahun lalu yang ditangani Sawamura. Menyadari istri dan anaknya dalam bahaya, Sawamura berpacu dengan waktu untuk menghentikan aksi gila ” Frogman” ,si pembunuh sekaligus menyelamatkan keluarganya.

Mampukah Sawamura menyelamatkan keluarganya?

Apa sebenarnya motif dibalik pembunuhan sadis yang dilakukan oleh “Frogman”?

REVIEW:

Banyak film bertema gore/slasher yang jatuh hanya menjadi seonggok sampah tak berbekas dengan maksud hanya menghibur para penikmat genre film macam ini. Berdurasi 132 menit, “Museum” mampu menyajikan ketegangan tanpa mengurangi kadar gore lewat visualisasi keadaan korban pembunuhan Frogman. Alur film ini sendiri mengingatkan penonton ¬†akan satu film Hollywood garapan David Fincher namun dalam Museum, ada sedikit unsur ala “Oldboy” yang digarap Park Chan-wook dan tentunya “comic book essence” yang membuat Museum berada dalam jarak aman antara realita dan film barat bergenre sejenisnya. Shun Oguri yang memerankan Sawamura berhasil mengaduk-aduk perasaan penonton. Oguri berhasil membawa penonton hanyut ke dalam karakter Sawamura dan aktingnya terbilang maksimal sebagai seorang detektif sekaligus kepala keluarga yang diambang perpisahan. Satoshi Tsumabuki, pemeran Frogman dapat dikatakan sukses membuat ngeri penonton lewat intimidasinya dan permainan otak terhadap Sawamura. Belum lagi tawa yang dikeluarkan Tsumabuki menambah seramnya aura dari Frogman. Hideo Yamamoto (The Grudge) selaku Director of Photography (DoP) berhasil memperlihatkan suasana Tokyo yang mencekam di malam hari. Penggunaan bayangan di tengah hujan menambah ketegangan dari tiap scene ketika Frogman tengah beraksi. Belum lagi scoring yang digarap oleh Taro Iwashiro semakin membuat jantung berdegup kencang. Bersiaplah untuk merasakan ketegangan yang sudah lama tidak kalian rasakan dalam menyaksikan sebuah film thriller. Meski ada satu dua scene yang dinilai cukup “overact” bahkan “aneh” seperti car-chase di kota Tokyo yang bebas lalu lintas (how?), Museum berhasil menjadi sebuah tontonan pacu jantung yang akan membuat penonton bergidik terus-menerus. Dan bonus bagi para penggemar ONE OK ROCK, mereka kembali mengisi OST film ini dengan single “Taking Off” yang beraransemen rap-rock.

4/5

 

 

 

12 Shares