0 Shares

“Tenang aja, Lo berhadapan dengan orang yang ngebakar kakak tirinya sendiri”- Alfie

Lari dari insiden atau kejadian yang memilukan bahkan menimbulkan trauma bisa membuat kita mengalami dua hal. Pertama, kita bisa menjadi lebih kuat dari perisitwa serupa jika mengalaminya kembali dan kedua, penderitaan secara psikologis dan kejiwaan. Jika bicara soal trauma, tentu saja, kita harus mampu untuk move-on dan bangkit. Namun bagaimana jika yang kita alami dialami juga oleh orang lain?

Berjeda dua tahun dari film pertamanya yang dirilis tahun 2018, Timo Tjahjanto akhirnya merilis sekuel dari Sebelum Iblis Menjemput bertajuk “Sebelum Iblis Menjemput Ayat 2” yang diproduksi Frontier Pictures dalam asosiasi dengan Rapi Films, Brown Productions, Legacy Pictures. “Sebelum Iblis Menjemput Ayat Dua” kembali menghadirkan Chelsea Islan dan Hadijah Shahab bersama para cast baru seperti Widika Sidmore, Baskara Mahendra, Shareefa Danish, Arya Vasco, Lutesha, Aurelie Moeremans, Karina Salim serta Tri Hariono.

2 Tahun setelah ending film pertama, Alfie dan Nara kini hidup dalam keheningan dan kedamaian. Namun kedamaian tersebut terusik ketika mereka berdua dimintai bantuan oleh tujuh orang yang merupakan anak dari Rumah Yatim Bahtera yakni Budi, Leo,Dewi,Gadis,Djenar,Kristi dan Martha. Ketujuh orang ini merasa mereka diincar oleh orang yang mengasuh mereka yang kini meninggal, Pak Ayub. Alfie yang angkuh tanpa Ia duga harus menghadapi terror yang ternyata berkaitan dengan masa lalunya.

Bagaimana nasib ketujuh orang tersebut?

Apakah Alfie berhasil bertahan dari terror masa lalunya tersebut?

REVIEW:

Sebelum Iblis Menjemput sudah menjadi standar yang baru dalam perfilman nasional terutama dengan hal-hal yang berbeda dari film horror kebanyakan. Namun, Timo Tjahjanto kembali dengan konsistensinya mengulangi apa yang menjadi kelemahannya sebagai seorang sutradara merangkap script-writer yakni Story-Telling. Interaksi antar tokoh nya terbilang kaku dengan bahasa Indonesia yang bisa dibilang cukup “formal” mendominasi hampir sepanjang film. Awal film dimulai,semua berjalan mulus dengan Jumpscarenya yang konsisten namun ketika film tiba di pertengahan, alurnya berubah seperti Timo kebingungan hendak mau dibawa kemana arahnya sehingga paruh pertengahannya dapat dikatakan kedodoran. Namun kedodoran di pertengahan tersebut diobati dengan paruh akhir yang menyajikan plot-twist “ajaib” nan mengundang gelak tawa. Ya, Timo sedikit memasukkan unsur komedi dalam naskahnya di SIM Ayat 2 ini sehingga beberapa kali penonton tertawa mendengar interaksi tokohnya yang terbilang “lucu” bahkan dimoment menegangkan pun masih bisa tercipta moment pengundang tawanya.

Kalau dibilang relate / berhubungan dengan Sebelum Iblis Menjemput, tentu ada kaitan dan hubungannya dengan munculnya tokoh penting dari film pertama. Untuk segi teknisnya, Sebelum Iblis Menjemput Ayat Dua melebihi ekspektasi dari film pertamanya dimana tampilan Make-up Visual Effect dari Novie Aryanti mendukung terciptanya moment jumpscare yang didukung oleh Sound Designer, Hiro Ishizaka. Color gradingnya juga terbilang sangat baik untuk ukuran film horror lokal berkat Cinematography dari Gunnar Nimpuno. I.C.S. Scorenya juga mendukung sekali terutama moment Jumpscarenya yang digubah oleh Rooftop Sound feat Mohammad Istiqamah Djamad. Kalau bicara soal seberapa Gore SIM Ayat 2 dibandingkan Sebelum Iblis Menjemput, Timo tidak memberi ampun dengan menyajikan banyak adegan yang dijamin membuat ngilu ,ngeri bahkan bergidik.

Widika Sidmore adalah sosok yang saya highlight dari segi para cast. Widika dalam debut perdananya menghadirkan akting yang terbilang “luar biasa” sebagai Gadis. Ia mampu memberikan ketakutan terhadap penonton lewat ekspresi wajahnya. Lutesha pun meski hanya tampil sebentar juga memberikan penampilan yang tidak bisa dilupakan begitu saja. Bicara soal komedi, Saya berikan apresiasi untuk Baskara Mahendra sebagai Budi. Pemeran Jojo remaja dalam “Bebas” ini benar-benar mencairkan suasana lewat celetukannya. Chelsea Islan semakin kuat menjiwai karakter Alfie yang angkuh.

Pada akhirnya, Sebelum Iblis Menjemput Ayat 2 mengalami penurunan dari segi story-telling namun semakin menunjukkan kualitas dan standarnya untuk ukuran film horror Indonesia yang berani memberikan hal berbeda dari flm horror kebanyakan dari segi teknisnya. Tetap saja, Saya merindukan kolaborasi Timo Tjahjanto dan Kimo Stamboel yang biasa dikenal dengan sebutan The Mo Brothers untuk kembali membuat film bersama.

3,5 dari 5

0 Shares