6 Shares

“No matter how far you run, you can’t escape your destiny!”- Gargamel

Menjadi bagian dari kumpulan atau kelompok yang memiliki hal yang sama merupakan sebuah hal yang sangat diidamkan oleh kita. Terlebih jika kelompok tersebut memiliki kesamaan ras atau turunan atau suku (sebut saja suku Batak,Sunda dan sebagainya). Namun ketika kita dianggap tidak 100% murni memiliki turunan atau suku tersebut,apa yang akan kita perbuat untuk meyakinkan mereka?

The Smurfs. Karakter rekaan Peyo ini memang sudah diangkat ke layar lebar lewat “The Smurfs” (2011) dilanjutkan sekuelnya yang bersetting di Paris,”The Smurfs 2″ (2013) namun secara kritik versi layar lebarnya yang memadukan unsur CGI dari para Smurfs dan Live-Action yang menghadirkan cast seperti Neil Patrick Harris dan Frank Azaria dinilai kurang mendapat tempat di para pecinta Smurfs. Untuk itu, Sony Pictures mereboot kembali franchise ini dan merilis Smurfs dalam versi CGI Animated berjudul “Smurfs: The Lost Village”. Disutradarai oleh Kelly Asbury yang juga turut terlibat sebagai salah satu voice castnya, voice-cast dalam film ini juga tidak bisa dianggap sebelah mata mulai dari penyanyi Demi Lovato, Joe Manganiello,Julia Roberts,Michelle Rodriguez,Danny Pudi,Jack McBrayer,Rainn Wilson,Mandy Patinkin,Gabriel Iglesias,Jake Johnson dan juga penyanyi yang mengisi OST film ini lewat single “I’m a Lady” Meghan Trainor.

Ada sebuah legenda tentang sebuah desa yang hilang dan tidak ada satupun yang mengetahuinya di dunia Smurf. Smurfette yang penasaran bersama Clumsy,Brainy dan Hefty Smurf memutuskan untuk mencari desa tersebut. Namun pencarian mereka diganggu oleh musuh bebuyutan mereka si penyihir Gargamel yang ternyata juga mencari desa tersebut demi memuluskan tujuan jahatnya.

Benarkah desa yang hilang tersebut benar ada?

Apa yang akan Smurfette,Clumsy,Hefty dan Brainy Smurf temui di perjalanannya?

Mampukah mereka menghentikan niat jahat Gargamel?

REVIEW:

 

Berdurasi 90 menit, keputusan Sony Pictures untuk mengubah Smurf menjadi full animasi sangat layak. Lembaran demi lembaran kertas komik karya Peyo ini benar-benar hidup dan siap memanjakan mata para penonton terutama anak-anak lewat visualisasinya yang penuh warna. Tidak hanya itu, dibandingkan Katy Perry yang feminim ketika menjadi Smurfette dalam versi Live-Actionnya, Demi Lovato malah membuat karakter Smurfette dalam “Smurfs: The Lost Village” lebih tomboy dan agak tangguh. Lelucon yang membuat tertawa masih akan mewarnai film ini lewat aksi kocak Clumsy dan Hefty serta Brainy yang tergolong kutu buku penuh teknologi. Tren masa kini seperti Selfie pun tidak lepas dalam film ini. Alurnya sendiri mudah dimengerti oleh anak-anak dan jika memungkinkan, format 3D boleh dicoba karena ada beberapa adegan yang jika disaksikan dalam 3D akan lebih terasa pop-upnya.

Asbury juga membuat sebuah twist yang cukup membuka peluang adanya sekuel (mungkin,kenapa tidak). OST film ini juga cukup baik dalam tiap scene yang disertakan mulai dari “Heroes (We Could Be)” yang dibawakan Dj Alesso feat Tove Lo sampai Delirious yang dipopulerkan oleh Steve Aoki. Scoring dari Christopher Lennertz juga mampu mengiring penonton di tiap scenenya. “Smurfs: The Lost Village” juga memiliki pesan moral yang baik bagi anak-anak. Jangan lewatkan juga sedikit during credit scene yang cukup menarik bagi yang membenci Gargamel. Overall, treatment ke bentuk animasi dari Smurfs berhasil mengembalikan esensi sebenarnya yang memang ada dalam Smurfs di komik karangan Peyo tersebut.

4/5

 

 

 

6 Shares