0 Shares

“Don’t let him win by bringing him back to life”- Tom Griffin

Menjalani hubungan pacaran pasti terasa manis diawal atau bulan pertama. Namun realitanya, banyak hubungan yang berubah menjadi Toxic Relationship. Entah itu saling memanfaatkan pasangannya, berselingkuh atau yang paling riskan terjadi, tindakan kekerasan terutama kontak fisik terhadap pasangan kita yang sebagian besar dialami kaum wanita. Rasa trauma tentu menghantui mereka yang terjebak dalam hubungan tidak sehat tersebut. Namun bagaimana jika sang pria menginginkan maaf dengan cara yang tak terduga misalnya menguntit atau menjadi seorang stalker yang mengikuti gerak-gerik mereka?

Sempat gagal dengan Reboot “The Mummy” (2017), Universal kembali mencoba kesempatan kedua mereka untuk menghidupkan “Monsters Universe” mereka dengan merilis “The Invisible Man” yang merupakan reboot dari film rilisan tahun 1933 dan diadaptasi dari novel karangan H.G.Wells tersebut. “The Invisible Man” menghadirkan Elisabeth Moss, Aldis Hodge, Storm Reid, Harriet Dyer, dan Oliver Jackson-Cohen. Film ini akan tayang lebih awal di Indonesia, 26 Februari 2020 menyusul Amerika, 28 Februari 2020.

Cecilia Kass adalah seorang wanita yang menjalin hubungan dengan seorang ilmuwan ahli di bidang Optik, Adrian Griffin. Namun seiring berjalannya waktu, hubungan tersebut berubah menjadi hubungan yang tidak sehat dimana Adrian sering menyakiti Cecilia sampai Ia memutuskan kabur dari rumah Adrian. 2 pekan kemudian, datang kabar bahwa Adrian tewas bunuh diri dan meninggalkan harta warisannya kepada Cecilia. Cecilia yang mendengar kabar tersebut tidak percaya bahwa Adrian benar-benar sudah “mati”. Berbagai kejadian melanda Cecilia sampai teman masa kecilnya yang juga seorang polisi, James Lanier yang memiliki anak perempuan bernama Sydney Lanier, kakaknya, Emily Kass tidak percaya dengan apa yang diucapkan Cecilia. Kejiwaan Cecilia semakin teruji ketika dia dengan putus asa menguak siapa yang selalu mengusiknya sekaligus membuktikan bahwa ada sosok tak terlihat yang mengincarnya.

Benarkah sosok tersebut adalah Adrian?

Bagaimana nasib Cecilia? Apakah dia masih memiliki kewarasannya?

REVIEW:

Leigh Whannell. Siapa yang tidak kenal dengan sosok pemeran Specs dalam franchise Insidious ini? Debut penyutradaraan perdananya yakni “Insidious Chapter 3” memang agak kurang baik di Box Office namun Whannell perlahan membuktikan kepiawaiannya mengarahkan angle kamera dalam “Upgrade” (2018). Dan, dalam The Invisible Man, Whannell secara cerdas mengarahkan sebuah film thriller yang erat kaitannya dengan sosialita. Whannell yang juga menulis skrip/naskahnya ini dengan cerdik mengeksplor dampak dari Toxic Relationship yang dialami Cecilia dari Adrian.

Lebih apiknya lagi, The Invisible Man juga membawa kembali aura Thriller ala 90an dimana penonton akan terus dibuat tegang sepanjang film apalagi ketika sang sosok “The Invisible Man” itu mulai beraksi. VFX dan CGI dari The Invisible Man sendiri cukup halus sehingga penonton bisa melihat apa yang terjadi dalam kendalinya. Lebih lanjut, adegan aksinya juga cukup memberikan sebuah Choreography yang menarik dengan paduan score yang digarap oleh Benjamin Wallfisch, semua ini berpadu menjadikan The Invisible Man sebuah film Psychology Thriller yang membawa kembali aura thriller 90’an.

Elizabeth Moss yang memerankan Cecilia Kass layak diberi kredit. Dengan skrip yang ditulis oleh Whannell, Moss memberikan penampilan akting yang luar biasa dari bagaimana ekspresi ketakutannya akibat trauma dari hubungannya dengan Adrian yang akan mewakili perasaan kaum wanita yang juga sedang berada dalam hubungan percintaan yang tidak sehat dan berubah menjadi Toxic. Kecemasan Cecilia juga berhasil diperlihatkan oleh Moss.

Whannell berhasil menjadikan The Invisible Man sebagai awal yang baik untuk melanjutkan Monster Universe dari Universal dengan arahan kamera seperti yang Ia lakukan dalam “Upgrade” dan mengaitkannya dengan isu realita yang cukup hangat dan sering terjadi belakangan di dalam kehidupan tanpa mengurangi tensi ketegangan yang mampu membuat penonton terus duduk di kursi. Bersiaplah untuk ending yang “mengejutkan”. Percayalah, Kalian tidak siap untuk ending tersebut.

4,5 dari 5

0 Shares