82 Shares

busan indo poster

“I will bring you to mom, no matter what happened”- Seok-woo

Disamping kebaikan, pasti ada kejahatan. Sama hal nya dengan manusia yang mana memiliki dua sisi tersebut bak mata koin. Sisi gelap yang dimaksud tentu saja keegoisan. Secara tidak sadar kita sering berlaku egois pada sesama apalagi ketika berada dalam masalah yang sama. Namun kita tidak menyadari apa konsekuensi dari keegoisan kita tersebut,bukan?

busan-review-pic

Inilah Box Office Korea untuk 2016 yang saat review ini dtulis sudah meraih 11,266,999 penonton dan sudah menarik perhatian para penikmat film di seluruh belahan dunia termasuk Indonesia, Train To Busan”. Menjadi pusat perhatian ketika diputar dalam “Midnight Screening di Canned Film Festival sekaligus menjadi film bertema zombie pertama yang diproduksi oleh Korea Selatan, film ini dibintangi oleh Gong-yoo, Jeong Yu-mi, Ma Deong-seok, Kim Soo-an, Choi Woo-sik, mantan personil Wonder Girls, Ahn So-hee,Kim Ee-seong,Jeong Seok-yong, Ye Soo-jeong dan Park Myeong-sin.

Bu-San-Haeng-Train-to-Busan--1000x600

Kesibukan sebagai direktur perusahaan pendanaan ditambah masih diurusnya perceraian dengan istrinya membuat Seok-woo tidak bisa menyisihkan waktu sedikitpun untuk Soo-an, putrinya yang berusia 10 tahun. Jelang ulangtahunnya, Soo-an meminta Seok-woo untuk mengunjungi ibunya di Busan dengan menaiki KTX (Korean Train Xpress) 101. Di kereta tersebut mereka bertemu pasangan Sang-hwa dan Seong-kyeong yang tengah mengandung, sekelompok tim baseball yang dipimpin Yeong-gook dan Jin-hee sebagai pemandu soraknya serta Yong-seok, direktur COO Express. Perjalanan mereka berubah menjadi ajang bertahan hidup ketika sekelompok zombie menyerang KTX yang mereka naiki. Ditengah perjalanan, terdengar kabar bahwa satu-satunya kota yang aman di Korea adalah Busan yang dituju juga oleh Seok-woo dan Soo-an.

Bagaimana nasib Seok-woo dan seluruh penumpang KTX 101?

Mampukah Seok-woo dan Soo-an tiba dengan selamat di Busan?

REVIEW:

1109656919-Train-to-Busan

Jika membicarakan tema zombie, tentu pikiran akan langsung tertuju pada daerah barat/Hollywood. Namun seiring berkembangnya zaman, mereka hanya menciptakan film zombie yang hanya memperlhatkan adegan aksi,upaya bertahan hidup namun tanpa emosi yang mampu membuat penonton serasa ikut merasakan scene dalam film produksi mereka. “Train To Busan” memberikan pengalaman berbeda meskipun dilabeli sebagai 1st Zombie Film yang pernah diproduksi Korea. Secara alur dan pengenalan karakternya sendiri cukup baik dan tidak bertele-tele atau to the point. Yang menarik untuk disinggung disini adalah skenario yang ditulis oleh Park Joo-Suk dan Yeon Sang-Ho yang juga menyutradarai film ini. Terasa sangat kental isu-isu dan nilai manusiawi dalam film berdurasi 118 menit ini. Dan penjabarannya pun diperlihatkan dengan emosional sebagai konflik ditengah film. Akting para cast seperti Gong-yoo sebagai Seok-woo mampu membuat penonton merasakan emosi mereka naik-turun. Yoo mampu memperlihatkan kegelisahan dan beratnya menjadi seorang single parents. Bersama Kim Soo-an yang menjadi scene-stealer dalam film ini, chemistry mereka cukup menghanyutkan penonton. Ma Deong-seok kembali dalam tipikal karakternya yang keras,suka berkata kasar namun cukup memukau penonton lewat aksinya. Untuk antagonisnya sendiri, Kim Ee-seong yang memerankan Yong-seok cukup membuat jengkel penonton dengan aktingnya yang menjadi perwakilan dari sisi gelap manusia. Tidak hanya itu, sang sutradara tidak mau ketinggalan dengan mengajak salah satu aktris Korea yang dikenal lewat film “Miss Granny” untuk tampil dalam “Train To Busan”. San-ho dan produser Lee Dong-ha turut menyumbangkan suaranya dalam film ini.

choi-woo-sik-busan

Untuk adegan aksinya sendiri cukup membuat penonton tegang dan tidak boleh menahan nafas meskipun diselingi sedikit komedi di beberapa scenenya. Cinematographer Lee Hyung-duk berhasil memperlihatkan suasana kota yang mencekam pasca penyerangan para zombie. Terlebih efek slow-motion yang digunakan dalam film ini makin menambah ketegangan dan penonton akan merinding melihatnya. Dan poin utama dan terakhir yang menjadi kekuatan “Train To Busan” adalah drama. Ya, apapun genre filmnya, Korea selalu mampu membuat penonton terhanyut dalam dramanya yang cukup mellow dan itu terbukti cukup kuat dimasukkan jelang akhir film.

Overall, “Train To Busan” selain menegangkan dan cukup membuat penonton menahan nafasnya, film ini turut menyinggung isu sosial dan nilai kemanusiaan yang menambah value dari film pertama produksi Korea bertema zombie ini.

5/5

82 Shares