4 Shares

CRFv67LUkAAmGcN

“Every story ever told can be broken down into three parts. The beginning. The middle. And the twist.”-R.L.Stine

Imajinasi. Kata yang satu ini cukup kompleks dalam benak kita. Terkadang kita sering memiliki “teman imajinasi” atau bayangan-bayangan aneh yang muncul sekejap dalam pikiran kita. Namun bagaimana seandainya imajinasi kita tersebut menjadi kenyataan dan berbalik menghantui kita?

“Goosebumps”. Seri novel populer karangan R.L.Stine yang satu ini sudah cukup terkenal di kalangan pembaca setianya. Setelah sempat diadaptasi menjadi TV Series berepisode pada 1995-1998 dan ditayangkan pada tahun 2000-an di salah satu tv swasta, kini novel tersebut diadaptasi ke dalam versi layar lebar dengan cast antara lain: Dylan Minnette, Jack Black,Odeya Rush,Amy Ryan,Ryan Lee,Jillian Bell dengan Rob Letterman sebagai sang sutradara dan Neal H.Moritz sebagai produsernya.

goose1

Kepindahan Zach Cooper dari New York ke daerah Madison pada awalnya membuat dirinya kecewa. namun setelah bertemu seorang gadis bernama Hannah, Zach kembali menjadi remaja yang ceria. Namun Zach tidak mengetahui bahwa ayah Hannah yang misterius adalah pengarang ternama serial “Goosebumps”, R.L.Stine. Suatu malam, Zach bersama teman sekolahnya, Champ secara tidak sengaja membuka salah satu naskah “Goosebumps” dan melepaskan monster “The Abominable Snowman of Pasadena”. Namun itu semua baru awal karena Stine harus berhadapan dengan ketakutan terbesarnya: Slappy ,boneka Ventriloquist dari naskah “Night of The Living Dummy” yang siap membalas dendam setelah lama tersimpan dalam halaman naskahnya.

Mampukah Stine, Zach,Hannah dan Champ mengakhiri teror yang ditebar oleh Slappy The Ventriloquist Dummy?

REVIEW:

goosebumps-DF-01559r

Bagi generasi 90’an, novel Goosebumps ini sudah tidak asing lagi bagi para penggila horror. Di perpustakaan pun selalu ada saja seri Goosebumps yang diarsipkan. Penulis merupakan salah satu penggila seri novel ini pada tahun 90’an. Dan dalam adaptasi layar lebarnya, kumpulan monster-monster dari seri novelnya cukup banyak diperlihatkan mulai dari “Lawn Gnomes” dari “The Revenge of Lawn Gnomes”, “The Werewolf of Fever Swamp”, Giant Praying Mantis dari “Shocker on Shock Street” sampai Mummy dari “Return of The Mummy”. Semua ini terlihat sebagai tribute untuk novel horror best-selling sepanjang masa yang pernah ada di dunia.

Kembali ke adaptasi layar lebarnya. Disini Jack Black menjadi “main point attention” dengan aktingnya yang mampu memainkan mimik wajah sang pengarang yang berubah-ubah dengan sifat kerasnya. Dan disini Black juga turut mengisi dua karakter dari seri novelnya. Dylan Minnette-Odeya Rush sebagai Zach Cooper dan Hannah terlihat agak kaku, terutama Minnette yang sebelumnya sudah bermain di salah serial TV dari adaptasi R.L.Stine berjudul “The Haunting Hour”. Ekspresi Minnette kurang menjiwai karakter Zach yang rapuh namun butuh perhatian dan semangat. Sedangkan Rush yang memerankan Hannah benar-benar membuat para penonton jatuh cinta dengan perawakannya yang mirip dengan Mila Kunis (ya,itu benar). Kredit bagi “scene-stealer” Ryan Lee yang berperan sebagai Champ. Ditengah ketegangan, Lee dengan natural mampu membuat penonton tertawa lewat polah konyolnya.

Goosebumps

Alur dalam 5 menit pertama tidak begitu lambat namun masih straight to the point. Rob Letterman yang ketiga kalinya bekerjasama dengan Black setelah sebelumnya “Shark Tale” dan “Gulliver’s Travel” dimana mereka berkolaborasi, kembali membuktikan kapastitasnya sebagai seorang sutradara. Letterman mampu menyisipkan banyak “twist” yang ibarat orang “makan roti berlapis-lapis tetapi tetap lezat”. Dan pada pertengahan sampai akhir , Letterman menyajikan sebuah kesenangan dan nostalgia bagi para pecinta novel ini belum lagi dengan cameo dari R.L.Stine sendiri (yeah, he is Legend).

goosebumps-slappy

Scoring yang digarap Danny Elfman cukup berirama fun namun bisa berubah menjadi musik yang memacu adrenalin meski tidak cepat-cepat berlalu ketegangannya mampu menghidupkan tiap scenenya. “Goosebumps” merupakan hadiah bagi para fans berat novel karangan R.L.Stine yang tidak akan pernah lekang oleh waktu. Kenapa? karena film ini mewakili hampir semua imajinasi Stine dan para pembaca yang membayangkan bagaimana jika mereka semua hidup.

4/5

4 Shares