3 Shares

1896895_659652124096631_78829285_n

Pada hari Minggu, 9 Februari 2014, kami mendapatkan kesempatan Exclusive Interview dengan  Luna Maya, The Mo Brothers, dan Oka Antara yang membahas segala macam tentang film terbaru mereka, Killers.

Berikut Wawancara Team Movie Xplorers dengan Luna Maya…

602344_659652094096634_976352965_n

MX: Gimana bisa sampe kerjasama sama MoBros?

Luna (L): Aku dihubungi pertama kali tahun 2011. Saat itu belum ada bayangan filmnya seperti apa. Baru diceritain aja ceritanya gimana. Perannya jadi apa. Aku lihat dan ternyata lumayan bagus. Yaudah Aku bilang boleh juga. Habis itu baru 2012 syuting dan 2014 baru tayang. Prosesnya emang panjang banget sih.

MX: Berapa lama syutingnya?

L: 1.5 bulan ya. Karena ada syuting yang di Jepang, juga ada yang syuting di Jakarta.

MX: Sebelumnya pernah ada kerjasama dengan Mo Brothers?

L: Belum sih tapi sekitar beberapa bulan sebelum dihubungi, Aku baru sempat nonton Rumah Dara di DVD. Karena waktu di bioskop gak sempat nonton. Dan Aku pikir ini such a cool movie. Mungkin kalau di Amerika cerita semacam ini sudah biasa ya. Seperti film Texas Chainsaw Massacre. Cuman untuk seorang director Indonesia, film semacam ini bisa dikatakan sebuah breakthrough. Dengan efek semacam itu, seberdarah macam itu. Menurut Aku they are very talented.

Aku sempat pikir bakal keren banget kalau bisa kerja bareng mereka. Eh, beberapa bulan kemudian, iya bisa beneran main.

MX: Terus kesannya gimana kerjasama Mo Brothers?

L: Asik. Seru. Tapi yah, kok gak diajak ke Jepangnya sih? (ketawa)

MX: Persiapannya gimana?

L: Ya, biasalah. Reading dulu.

MX: Kalau sama Oka udah pernah kerjasama?

L:  Oh kalau sama Oka dulu udah pernah sih kaya FTV gitu. Ini udah yang ketiga kalinya.

MX: Terus kan film Killers ikut membawa nama Indonesia ke mata dunia. Terutama di Sundance bersama dengan Berandal. Perasaan Luna bagaimana?

L: Aku cukup bangga. Bukan untuk diri aku sendiri. Tapi the whole team. Bagaimana mereka kerja keras dari tahun 2009. Baru bisa syuting 2012. Lalu baru bisa tayang 2014. Dan ternyata terpilih untuk tayang di sundance itu bikin kita happy. Mudah- mudahan bisa tayang di lebih banyak Negara lagi.

MX: Harapannya untuk Killers gimana?

L: Ya harapanku sih supaya film Killers bisa diterima di masyarakat. Dan bisa sukses. Amin.

MX: Amiinn… Terima kasih Luna, Sukses Terus!

———————————————————————————— 

 Wawancara dengan The Mo Brothers…

1017615_659652114096632_1232265236_n

MovieXplorers (MX): Gimana bisa akhirnya kerjasama dengan Jepang?

Kimo (K): Kita pertama kali di approach untuk bikin film slasher. Tapi kita putuskan untuk lebih ke thriller. Dan menurut kita ini genre film yang cukup susah. Why? Itu harus bisa menggapai mass audience. Bukan hanya audience seperti slasher biasa. Dan tidak seperti horror biasa, kalau lo udah masuk ke dunia thriller, itu cakupannya udah akan lebih luas. Saleswise juga harusnya bisa lebih gede lagi.

MX: Dapet ide gitu gimana tuh? Sakit juga idenya

K: Awalnya gue, Timo, dan Takuji Ushiyama diskusiin bertiga gimana nantinya film ini. Kalau dari gue sama Timo sih sebenarnya. Untuk yang Jepang kita putuskan kalau karakternya harus straight forward dan harus “Jepang banget”. Gue gak mau audience Jepang nonton ini dan pikir ini “ah ini bukan Jepang. Jepang gak kaya gini nih.”

Kalau Indonesia gue pengen ngambil social issue yang bisa kita angkat. Akhirnya kita ambil ide karakter seorang wartawan. Karena orang yang menurut gue masih pure gitu harus yang bisa mengungkap sebuah kebenaran. Dan menurut gue yang bisa itu wartawan. Untuk detail Timo yang lebih banyak eksplor sih.

Timo (T): Gue awalnya pengen bikin 2 orang karakter pembunuh yang bukan berkompetisi. Tapi lebih memiliki bonding. Untuk bagian cerita yang Indonesia sendiri gue lebih pengen ngangkat isu yang related sama kehidupan di Jakarta, which is, tentang corruption dan bagaimana orang kecil itu bisa ditindas. Untuk karakter Bayu gue pengen menggambarkan bagaimana seorang baik bisa membunuh. Kita juga gak pengen karakter Bayu ini sebagai seorang pembunuh yang cool. Dan untuk karakter Nomura sendiri gue pengen bikin gimana seorang yang jahat semakin teraniaya oleh society.

 MX: Apakah ada reference tersendiri yang lo ambil untuk karakter Nomura dan Bayu?

T: Kalau Nomura sendiri gue bikin sebagai seseorang yang bisa influence Bayu. Dan untuk bisa meng- influence Bayu, karakter Nomura harus seseorang yang karismatik sekaligus psikopat. Mungkin bisa disamakan dengan karakter serial killer Ted Bundy. Ted Bundy itu kalau lo tahu pengakuan korban- korban yang selamat dia itu such a nice guy dan sangat karismatik. Tapi di satu sisi dia punya sisi psikopat yang sadis.

MX: Gue tertarik sama topengnya. Bisa ceritakan sedikit tentang topeng yang dipakai Nomura?

T: Pada dasarnya gue pengen bikin karakter Nomura sebagai seorang cinematic psychopath. Gue pengen bikin Nomura itu sebagai seseorang yang narsis yang pengen menunjukan dirinya serta hasil kerjanya. Namun sebagai seorang serial killer, dia harus menutupi jati diri sebenarnya. Untuk itu dia harus memakai topeng yang menjadi ciri khasnya.

K: Untuk topeng itu kita hire seorang mask designer. Jadi memang dikerjakan secara serius dan detil. Bahkan kita sendiri sempat kaget pas ditunjukin hasil akhir topeng itu.

MX: Untuk Killers itu sendiri kan sebuah film yang jarang banget dibikin di Indonesia. Sebenarnya lo berdua Pede gak sih awalnya?

T: Kita sih jujur gak pernah Pede bikin film

K: Kita tuh sih dari dulu selalu pengen bikin film yang never-been-done before. Meskipun tema thriller macam ini sebenarnya sudah banyak dibuat di Indonesia. Namun kita pengen ada suatu tema yang berbeda. Dan gue harap sih banyak sutradara- sutradara yang lain yang terinspirasi dengan tema sejenis setelah melihat Killers.

MX: Terus gimana tuh untuk menghadapi LSF? Kan pasti banyak sensor kan?

K: Ah itu mah biasa. Kalo sensor sih sebenarnya gak terlalu banyak.

T: Buat Kimo mah biasa. Buat gue stress men. (ketawa). Yah intinya sih semua sutradara sebenarnya akan ada sedikit kecewa kalau sudah mempersiapkan sebuah adegan dengan serius dan membutuhkan waktu dan pemikiran yang matang, lalu tiba- tiba dipotong. Tapi ya mau gimana lagi? Daripada gak bisa tayang?

MX: Kan banyak tuh yang banding- bandingin Killers sama Rumah Dara. Nah Pendapat lu gimana tuh?

T: Ya gak salah juga sih ya. Karena kita sebagai sutradara yang datang dari genre slasher udah pasti stigma slasher itu pasti datang terus.

MX: Killers kan termasuk film yang bawa nama Indonesia ke mata internasional. Apalagi masuk ke Sundance. Gimana perasaan lo berdua nih?

T: Yang pasti senenglah. Tapi yang gue kurang setuju Killers ini jadi salah satu film yang masuk ke midnight selection. Biasanya film- film yang diputar di midnight selection itu yang cenderung lebih fun kaya Dead Snow 2. Sementara Killers kan cenderung lebih slow. Sempet gak pede sih pas diputer. Tapi Alhamdulillah ternyata tanggapan audience sana positif.

K: Perasaan kita sih banggalah. Orang Amerika sendiri susah masuk ke Sundance. Kita hoki banget bisa screening di situ. Oka juga seneng banget tuh. Apalagi dia satu- satunya orang Asia yang merepresentasi 2 film secara bersamaan; Killers dan Berandal.

MX: Waktu diputer di Jepang sendiri gimana tuh?

T: Kalo di Jepang itu kan kebiasaannya di hari pertama pemutaran cast and crew datang untuk memberikan penghormatan. Nah pasti hari pertama itu gue ngeliat muka- muka yang sama lagi. Ternyata bener, mereka itu samperin gue dan bilang mereka udah nonton 4 kali. Beberapa di antaranya karena emang udah fans berat sama Kazuki.

MX: Untuk syuting di Jepang itu pakai crew Jepang atau Indonesia

T: Untuk crew di Jepang kita pakai orang Jepang

K: Dari Indonesia cuman gue,  Timo, kameraman kita, dan editor kita.

MX: Ada kendala bahasa gak tuh?

K: Kalau kendala bahasa adalah kendalanya. Untungnya ada translator. Cuman enaknya orang- orang Jepang itu cepat tanggap dengan apa yang kita mau.

MX: Kenapa kayanya suka banget pake Kang Epy Kusnandar?

T: Dia aktor yang special menurut gue. Dia pernah berhadapan dengan kematian. Dan menurut gue, seorang aktor kalau sudah bisa berhadapan dengan kematian, dia pasti bisa meranin apa aja. Dan totalitas. Dia juga punya improve yang bagus banget. Karena dia suka masukin elemen theaterical.

 MX: Next project kalian apa nih?

K: Gue lagi pengen bikin film zombie. Konsepnya udah ada. Script sudah draft 3. Setting lokasinya Jakarta. Judul sementara “24 jam.” Yah lagi kita kembangin dengan target tayang tahun 2015. Tapi mungkin akhir tahun.

T: Ya itu. The Night Comes For Us. Sama Joe dan Kang Yayan. Syuting tahun ini. Rencana tayang 2015.

MX: Okay, Thanks yaa guys! Sukses Terus!

1508047_659652150763295_923917628_n

—————————————————————————–

Wawancara dengan Oka Antara…

1901749_659652310763279_1175324123_n

MX: Bisa ikut terlibat di film ini gimana?

Oka (O): Awalnya gue gak kenal sama Timo dan Gareth. Tapi sebagai seorang pemain gue udah ngincer beberapa sutradara. Termasuk mereka. Tapi gue gak ada akses. Joe Taslim yang ngenalin gue sama Gareth. Dia mau casting gue untuk Safe Haven. Ternyata penampilan gue di Safe Haven itu sebagai “audisi” gue untuk film Killers ini.

MX: Maksudnya audisi gimana?

O: Ya dia mau lihat gue bisa gak kerjasama sama mereka. Ada chemistry dan teamwork- nya gak. Akhirnya ternyata emang cocok dan klop, ya udah lanjut.

MX: Susah gak sih dapetin chemistry sama orang luar?

O: Susah sih. Kendala paling utama dari bahasa. Karena mereka juga gak bisa bahasa inggris. Cuman untungnya kita pakai jasa translator. Cuman memang Timo pesen untuk di film, bahasa Inggrisnya agak dibuat seperti orang yang gak fasih bahasa Inggris. Untungnya Kazuki itu termasuk orang yang team player banget. Gak ada tuh rasa gengsi sesama aktor.

MX: Sempat ada kendala gak?

O: Ada sih. Yang paling susah waktu gue dan dia harus syuting adegan webchat. Itu kan gak berbarengan.

MX: Gimana rasanya kerjasama dengan Om Ray Sahetapy?

O: Om Ray menurut gue itu luar biasa banget. Gue udah pernah kerjasama ama Om Ray di film kedua gue, Dunia Mereka. Dan gue tahu kapasitas dia memang kaya gimana. Dia bisa kasih muatan yang sangat berat saat berakting. Dia juga sama kaya Kazuki, seorang team player juga.

MX: Ke depannya rencananya gimana?

O: Gue sih gak pernah berencana. Takutnya gue jadi berharap besar dan ternyata gak kesampaian. Gue takutnya jadi kecewa. Tapi sebagai aktor gue harus siap bisa bermain di genre apapun. Soalnya menurut gue trend film Indonesia itu bisa berubah dengan cepat. Dari yang cinta religi, kemudian film semacam Laskar Pelangi, sampai sekarang The Raid.

MX: Mantaappp! Terus Berkarya, Sukses Terus! Thank you Oka!

1450712_659652410763269_1913923307_n

1888532_659652234096620_381353800_n

550362_659652297429947_1588826049_n

(dnf)

3 Shares