0 Shares

8 Days A Week

 

“I think the basic thing about The Beatles is that we were a great little band. So to see us performing as a band is a great thing, because without that, we couldn’t have made the records. That was the foundation of everything we recorded.” ~ Paul McCartney

“I’ve said it before: I’m an only child and suddenly I had three brothers. What was very difficult for a lot of people to understand was that we were these four guys going through the Beatle life together, which you’ll see a lot in this film, and we had each other all the time. People can actually see that we were just this band of rockers who loved to do what we did.” ~ Ringo Starr

 

fa_beatlesposter

Sinopsis

Film karya sutradara kelas Oscar, Ron Howard, ini menyajikan kumpulan dokumentasi perjalanan penampilang langsung the Beatles (John Lennon, Paul McCartney, George Harrison dan Ringo Stars) dari klub-klub kecil di Liverpool, Inggris dan Hamburg, Jerman ke tur dunia yang belum pernah terjadi sebelumnya dari mulai New York ke Melbourne sampai ke Tokyo. Eight Days A Week ini juga berisikan arsip wawancara dan penampilan the Beatles yang jarang atau bahkan belum pernah diperlihatkan di film-film the Beatles sebelumnya. Selain itu juga ada tambahan wawancara yang begitu mendalam dan baru dengan personil the Beatles yang tersisa, Paul McCartney dan Ringo Stars serta beberapa tokoh terkenal lainnya seperti: Whoopi Goldberg, Elvis Costello, Larry Kane, Dr. Kitty Oliver, Richard Curtis, Ed Freeman, dll.

 

beatles-shea-stadium-still01-1280x973

Review

73 juta penonton melihat penampilan mereka secara langsung di acara televeisi “Ed Sullivan Show”. Jumlah penonton terbanyak dalam sejarah pertelevisian. Mereka, fab four, 4 anak muda asal Liverpool yang rambut ‘mangkok puding’nya digemari anak-anak muda di dunia, cikal-bakal budaya populer (dikenal juga dengan sebutan budaya pop) mendunia.

Film yang mengupas kehidupan atau perjalanan the Beatles memang tak sedikit, tapi Eight Days A Week – The Tourng Years ini menyajikan sesuatu yang unik. Seperti yang melekat dalam judulnya “The Touring Years” ya, tentu saja di film ini menyuguhkan kisah The Beatles ketika melakukan tur mereka yang dimulai di tahun 1962 – 1966, dari The Cavern Club di Liverpool sampai konser internasional terakhir mereka yang berlangsung Senin, 29 Agustus 1966 di Candlestick Park, San Fransisco, Amerika. Tapi, itu hanyalah sebagian kisah dari keseluruhan cerita.

Kisah lain yang ditampilkan di film ini terasa begitu humanis. Tidak hanya kuatnya karakter The Beatles sebagai satu band, tapi juga sebagai saudara dan keunikan mereka sebagai masing-masing individu. Mereka seperti tak terpisahkan. Mereka tumbuh, berkembang karena kecintaan mereka akan musik. Mereka mengalami masa-masa layaknya remaja yang beranjak dewasa dengan segala sifat dan sikap ‘rebel’ nya. Keraguan akan karya musik mereka apakah dapat diterima atau justru ditolak kala pertama kali menjajaki pasar Amerika, tentunya membuat kita yang menontonnya berpikir, bahwa mereka menjadi seperti yang kita kenal saat ini, menempuh perjalanan yang tak mudah. Popularitas, konser dari satu tempat ke tempat lainnya bahkan melintasi benua yang berbeda dalam waktu yang sangat padat tentunya juga menguras energi tersendiri. Studio adalah surga kecil bagi mereka berempat. Di studio mereka bisa keluar dari kegilaan dan jeritan penggemarnya untuk kembali berkarya dan menumpahkan segala ide mereka.

Kegilaan dan jeritan para penonton saat konser, sehingga membuat musik yang The Beatles mainkan tidak terdengar jelas tidak mengurangi antusiasme para penggemarnya, selama John Lennon dkk benar-benar bisa mereka lihat langsung, habis perkara! Lalu, bagaimana dengan para personil The Beatles sendiri saat melakukan konser? Konser yang tak selamanya berjalan mulus, konser yang tak selamanya ditunjang dengan tata suara yang apik, perangkat yang bisa dikatakan hampir seadanya atau tak layak? Konser yang hampir saja batal, seperti kejadian di Gator Bowl, Stadium, Jacksonville, Florida, bukan karena topan Dora yang melanda wilayah itu beberapa hari sebelum konser berlangsung, tapi juga karena isu segregasi rasial. Apa sikap yang diambil The Beatles saat itu?

Yang pasti, film ini membuat kita larut di dalamnya. Kita seolah berada di tempat yang sama dengan mereka. Menangkap segala kegilaan yang terjadi di waktu itu. Film yang penuh inspirasi, yang membuat kita belajar untuk tetap menginjak bumi meski popularitas menyilaukan mata kita, meski kritik dan pujian datang bertubi-tubi. Film yang membuat kita lebih mengenal para personil The Beatles. Mereka menghargai orang-orang yang ada di belakang layar, yang membuat mereka tenar. Mereka berkarya karena mereka suka membuat dan menghasilkan karya. Film The Beatles: Eight Days A Week – Touring Years, sebuah film yang mampu menyatukan banyak emosi.

beatlesstill08-1269x1280

 

Jadi? Ayo nonton, tunggu apa lagi ?!!!

 

8/10

0 Shares