7 Shares

Siapa bilang angka 13 adalah angka yang tidak beruntung? Angka 13 adalah angka yang menunjukkan kedewasaan dalam berpikir dan bertindak. Tahun ini merupakan ke 13 kalinya, telah diselenggarakan Q! Film Festival yang mengangkat tema Lesbian, Gay, Bisexual, Transgender, Intersexual dan Questioning (LGBTIQ) dan selama beberapa tahun terakhir juga dimasukkan tema Hak Asasi Manusia (HAM), Feminisme, dan HIV/AIDS. Sebagai salah satu festival film yang mampu bertahan selama ini, Q! juga menghadapi pro kontra. Namun Q! memiliki harapan agar Q! Film Festival bisa menjadi festival film yang memberikan pandangan yang lebih baik khususnya terhadap komunitas LGBTIQ. Bahwa LGBTIQ adalah manusia “biasa” sama seperti yang lainnya.


“Anggota keluarga kami beragam: Kakak laki yang gay yang sudah bersuami. Adik laki yang straight dengan 1 istri dan 1 anak. Orangtua yang sudah menikah 33 tahun namun berbeda mazhab. Beberapa pasang om dan tante yang berbeda agama dan ras.Yang seragam dari kami cuma satu: Kami bahagia. Mestinya kita bersyukur karena kita masing-masing terlahir berbeda. Seandainya saja lebih banyak orang di negara kita menyadari hal ini ” – Dennis Adhiswara (Actor & Filmmaker)

Q! Film Festival pertama kali diadakan di tahun 2002 oleh beberapa jurnalis freelance yang memiliki pemikiran untuk membuka peluang bagi film LGBT-IQ untuk ditayangkan. Q! Film Festival memiliki lebih dari 200.000 penonton setia dan setiap tahunnya memutar lebih dari 900 judul film, baik itu film lokal maupun internasional. Hal ini membuat Q! Film Festival sebagai salah satu festival film paling konsisten di indonesia bahkan untuk ukuran Asia adalah partner dari Teddy Awards. Adapun visi dan misi Q! Film Festival adalah: “To educate Indonesian society on gender equality, human rights and raising awarenes as well as strengthening education on HIV/AIDS and empowering the LGBT community through audiovisual, art and culture by means of film screenings and off-screen events”.

Seperti yang telah disampaikan oleh sahabat – sahabat Q! bahwa “Life without friends are just bleak. Q! for 13 years has been a great friend! Thank you for the color you add in life!” – Dave Hendrick (Presenter), dan “Q Film Festival menjadi jendela sebagian realita kehidupan manusia di dunia.” – Marissa Anita (Actress & News Anchor). Q! belajar dari pengalaman bahwa Q! Film Festival tidak akan dapat terlaksana tanpa dukungan dan bantuan dari seluruh pihak seperti Salihara, Goethe Institut, Kineforum, Angsa Merah, Kedutaan Besar di Jakarta, instansi pemerintah yang bersangkutan, organisasi-organiasi LGBT-IQ, Organisasi-Non Pemerintah Hak Asasi Manusia lokal maupun internasional, komunitas seni lokal dan teman-teman yang berdedikasi.

Hally Ahmad, Festival Director Q! Film Festival juga menambahkan bahwa “persoalan beda atau sama itu adalah label buatan manusia, apapun, Lesbian, Gay, Bisexual, Transgender, Intersexual atau Questioning – Heterosexual. Hidup di bumi yang sama, menghirup udara yang sama dengan nama yang sama, MANUSIA selesai habis perkara. Harmonisasi, sesederhana itu dulu saja yang ingin dicapai, mungkin pesannya dapat didapat secara personal dengan nonton film. Drama fiksi, dokumenter, experimental dari dalam dan luar negeri dikemas apik sebagai sebuah alat pemersatu untuk dapat duduk setara dan tenang menyaksikannya. Semoga banyak cinta yang bisa kita dapatkan di tahun ini sebagai manusia yang memanusiakan manusia.”

“Dari segi kemanusiaan, alangkah idealnya masing-masing atau orang mengekspresikan dirinya yang menjadi kebutuhan atau keinginan. Dalam pengertian non – mainstream seperti orientasi seksual, orientasi politik dan kedaulatan. Kaum LGBT akan mendapat perlakuan yang sama melalui penyelenggaraan Q! Film Festival, karena ini adalah apresiasi. Mereka membutuhkan orang-orang yang sudah coming out untuk mereka yang masih bersembunyi. Saya pernah nonton film Dog Day Afternoon di Amerika, mengenai gay yang sebagai perampok tapi pada akhirnya dijadikan pahlawan. Q! film Festival adalah bentuk apresiasi. Untuk Hak Asasi Manusia, masih pilih kasih dan tidak ada yang membela saya ketika saya dipenjara. Harapan saya adalah orang-orang Indonesia bisa melihat perbedaan sebagai sesuatu yang ada dengan sendirinya.” – Arswendo Atmowiloto (Seniman)

Q! Film Festival telah belajar untuk tumbuh dan hadir tidak hanya berupa pemutaran film tapi juga pagelaran seni (fotografi, instalasi, patung, manga, lukisan dan lain-lain), memperkaya literatur Indonesia dengan mendukung acara peluncuran buku dan penerbitan buku dengan tema LGBT-IQ, mengadakan workshop film, menyediakan fasilitas tes HIV secara gratis, membuka sarana untuk diskusi mengenai hal LGBT, isu gender, seksualitas, wanita dan Hak Asasi Manusia.

Pada tahun ini Q! Film Festival memiliki beberapa film unggulan diantaranya, Quick Change yang disutradarai oleh Eduardo Roy, Jr. dan Missing yang disutradarai oleh Zig Dulay dari Philippines, My Love: The Story of Poul and Mai yang disutradarai oleh Iben Haahr Andersen dari Denmark, Selamat Pagi, Malam (In The Absence of The Sun) yang disutradarai oleh Lucky Kuswandi dari Indonesia, dan Positive Youth yang disutradarai oleh Charlie David dari Canada. Selain itu, ada lebih dari 100 film dari berbagai genre yang akan Q! putar. Untuk acara penutup Q! melakukan sesuatu yang baru berupa pagelaran musik dalam bentuk Q! on Stage.

Last but not least, Q! ingin menyampaikan bahwa penerimaan bukan sesuatu yang jatuh dari langit, melainkan proses berkelanjutan untuk menciptakan dunia yang lebih berwarna, bukan hanya hitam dan putih. Mari bicara menggunakan bahasa sederhana, bahasa cinta sesama manusia. Karena kita semua 100% manusia.

Follow Q! on Twitter : @qfilmfestival
Follow Q! on Instagram : @qfilmfestival_
Visit Q! website :qmunity-id.org

7 Shares